![]() |
| Para undangan dalam Konkernas IV/2012 Bandung |
oleh: Ajeng Kania/Sukanda Permana (Tim Peliput Suara Daerah/Panpel)
Demikian diungkapkan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), H. Marzuki Alie dalam Pembukaan acara Konferensi Kerja Nasional (Konkernas) IV PGRI Tahun 2012 Masa Bakti XX Periode 2008-2013. Secara khusus, Majalah Suara Daerah PGRI Jawa Barat menerjunkan Kru Liputan Suara Daerah yaitu Ajeng Kania dan Sukanda Permana untuk meliput kegiatan tahunan organisasi profesi guru berskala nasional ini.
Konkernas IV Tahun 2012 dibuka secara resmi oleh H. Marzuki Alie (Ketua DPR RI) pada hari Kamis, 26 Januari 2012 pukul 20.00 WIB di Savoy Homann Bidakara Hotel, Jalan Asia Afrika, Bandung. Hadir dalam kesempatan ini, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP) Kemendikbud, Syawal Goeltom mewakili Mendikbud, Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan, Kabareskrim Polri, Ketua DPRD Jawa Barat H. Irfan Suryanegara, Kepala Bareskrim Polri Komjen Sutarman, Ketua Umum PB PGRI H. Sulistiyo, dan Ketua PGRI Jawa Barat H. Edi Parmadi serta sejumlah undangan, peninjau dan sesepuh PGRI.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), H. Marzuki Alie dalam Pembukaan acara Konferensi Kerja Nasional (Konkernas) IV PGRI Tahun 2012 Masa Bakti XX Periode 2008-2013. Secara khusus, Majalah Suara Daerah PGRI Jawa Barat menerjunkan Kru Liputan Suara Daerah yaitu Ajeng Kania dan Sukanda Permana untuk meliput kegiatan tahunan organisasi profesi guru berskala nasional ini.
Konkernas IV Tahun 2012 dibuka secara resmi oleh H. Marzuki Alie (Ketua DPR RI) pada hari Kamis, 26 Januari 2012 pukul 20.00 WIB di Savoy Homann Bidakara Hotel, Jalan Asia Afrika, Bandung. Hadir dalam kesempatan ini, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP) Kemendikbud, Syawal Goeltom mewakili Mendikbud, Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan, Kabareskrim Polri, Ketua DPRD Jawa Barat H. Irfan Suryanegara, Kepala Bareskrim Polri Komjen Sutarman, Ketua Umum PB PGRI H. Sulistiyo, dan Ketua PGRI Jawa Barat H. Edi Parmadi serta sejumlah undangan, peninjau dan sesepuh PGRI.
“Guru di Indonesia seharusnya bersatu dan bernaung dalam satu wadah organisasi yaitu PGRI dan guru tidak boleh dipolitisasi,” ungkap Ketua DPR RI disambut gemuruh sekitar 606 peserta Konkernas. Selanjutnya, Ketua DPR RI meminta para guru jangan terjebak pada kepentingan kelompok, apalagi menjadi partisan kelompok tertentu. Sebab jika kaum guru tak dapat menjaga independensi bakal merugikan dan cenderung melecehkan profesi guru. Menurutnya dengan guru menjaga independensi dan profesionalitas tinggi, maka menjadikan guru dapat berpikir jernih, dan mengedepankan kepentingan pembangunan dunia pendidikan nasional. Sebab hanya dengan pendidikan yang maju, mampu mengubah suatu bangsa tertinggal menjadi unggul.
Sementara Ketua PGRI Provinsi Jawa Barat yang kali ini menjadi tuan rumah dan Ketua Panitia Pelaksana, H. Edi Parmadi mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada pejabat hadir, tamu dan peserta konferensi kerja yang datang dari pelosok Nusantara. Menurutnya, Konkernas PGRI keempat di masa bakti XX ini sedianya bakal digelar di Mataram (NTB), akan tetapi PGRI Jawa Barat meminta bertukar-jadwal dan lebih dulu menghelat hajat tahunan ini.
Rencananya, acara Pembukaan konferensi awalnya akan dilangsungkan di Gedung Merdeka, tempat di mana Konferensi Asia Afrika tahun 1955 berlangsung. Namun sayangnya terkendala perizinan.
"Kami menginginkan insan guru mengetahui gedung yang dipakai Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Dengan demikian, mereka akan menjelaskan kepada para murid," ujar Bapak H. Edi Parmadi. Pelaksanaan di Savoy Homann Bidakara Hotel memiliki makna tersendiri, karena hotel ini hotel tertua (herritage) di kota Bandung. Megahnya bangunan herritage menggambarkan kejujuran dari orang-orang Bandung tempo dulu. Sambutan ini diakhir dengan ucapan “Hidup Guru! Hidup PGRI! Solidaritas Yesss!” disambut meriah oleh peserta.
cukup satu organisasi profesi guru
Menyinggung soal penggunaan Gedung Merdeka, Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan mengatakan bahwa perizinan gedung ikon KAA itu, bukan merupakan wewenangnya, tetapi perijinan penggunaan gedung berada di tangan Menteri Luar Negeri. Namun Gubernur mengobati peserta dengan memberikan fasilitas Gedung Sate, sebagai lokasi Penutupan Konkernas yang tak kalah eksotis dan sarat nilai sejarah..
Pada kesempatan selanjutnya, Gubernur mengungkapkan bahwa guru merupakan pihak kedua yang layak dihormati setelah orangtua. Penghormatan itu tak berlebihan karena tugas dan perannya sungguh mulia sebagai pihak yang bertanggung jawab menghasilkan generasi unggul.
| Gubernur dan Ketua PGRI Jawa Barat dalam suatu kegiatan di Sabuga |
"Kaisar Hirohito saat siuman dari pingsan akibat ledakan bom atom Perang Dunia II, yang pertama diucapkan adalah soal keberadaan para guru. Kaisar Jepang itu menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa. Hal itu menunjukkan bahwa untuk membangun kembali bangsa Jepang yang hancur, Kaisar membutuhkan para guru. Karena hanya oleh guru, maka hadir generasi yang mampu membangun masa depan yang lebih baik," kata Gubernur.disambut tepuk riuh hadirin.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP) Kemendikbud, Syawal Goeltom mewakili Mendikbud, membawa pesan Pak Menteri, selamat berkonferensi dan berharap PGRI tetap konsisten memiliki platform yang sama dengan Kemendikbud dalam rangka mendorong, mengembangkan dan membina profesionalisme guru. PGRI sejak berdiri tetap konsisten garis perjuangannya jelas untuk memperjuangkan profesi guru.
Dikatakan lebih lanjut bahwa tonggak keberhasilan guru sejak disahkan UUGD tahun 2005, kemudian dilanjutkan dengan diterbitkannya PP 74/2008 tentang Sertifikasi, Permen 16/2009, hingga 2011 berupa SKB 5 menteri, semua itu untuk profesionalisme guru. Untuk tahun 2012 pemerintah akan mengelola dari hulu ke hilir sehingga ada kuota nasional, ada sistem nasional, renkontruksi pendidikan guru dan pembinaan guru menjadi kesatuan, yakni sejak mahasiswa calon guru sudah mempunyai standar. Kondisi saat ini, sekira 2,9 juta guru akan dilakukan pembinaan, karena sewaktu direkrut belum menggunakan standar yang memadai. Dengan demikian, guru yang ada akan dibina dan calon menjadi guru diseleksi menggunakan standar.
Sementara Ketua Umum PB-PGRI, H. Sulistiyo memaknai bahwa Konkernas sangat penting bagi organisasi guru, dalam rangka menilai kinerja tahun 2011 dan menyusun rencana kerja tahun 2012. Di samping itu untuk merespon berbagai isu strategis dalam kehidupan berbangsa, dalam bidang pendidikan, serta berbagai persoalan tentang guru dan tenaga kependidikan.
Anggota DPD RI Perwakilan Provinsi Jawa Tengah ini menambahkan bahwa saat ini guru PNS yang sudah tersertifikasi dan memperoleh tunjangan profesi hidupnya jauh lebih sejahtera. Tetapi di sisi lain, implementasinya menyebabkan guru banyak memperoleh tekanan, penganiayaan, siksaan psikis bahkan pelecehan profesi.
Persoalan aktual dihadapi saat ini yakni masalah kekurangan guru. Data Kemendikbud menyebutkan bahwa guru di Indonesia kelebihan sekitar 500.000 orang. Berdasarkan asumsi ini, tampaknya guru honor, guru tidak tetap (GTT) dan sejenisnya dipergunakan sebagai perbandingan guru dan murid sehingga dihasilkan rasio 1: 17 untuk sekolah dasar dan 1 : 14 untuk SMP yang disebut lebih mewah dari perbandingan guru di beberapa negara.
Hal itu dibantah oleh H. Sulistiyo, “Insya Allah, itu tidak benar. Sampai saat ini, masih sangat banyak kelas di SD dikelola guru honor, dengan penghasilan sama sekali tidak pantas dan memilukan serta perhatian tidak jelas. Indonesia masih kekurangan guru sehingga perlu mengangkat, terutama guru bantu dan guru honor menjadi PNS. Jika belum mampu mengangkat menjadi PNS, mestinya dengan memberikan penghasilan minimal yang wajar.
H. Sulistiyo menyoroti rencana uji kompetensi dalam penetapan calon peserta sertifikasi. Hal ini tidak sesuai dengan konstitusi, karena menurut UUGD maupun PP No. 74/2008 tentang Guru, dalam sertifikasi tidak perlu dengan uji kompetensi, apalagi untuk menentukan peserta. Jika itu untuk mengetahui kompetensi guru, mestinya seluruh guru perlu diuji kompetensinya buka hanya calon peserta sertifikasi angkatan 2012.
Begitu pula dengan kondisi sosial politik di daerah berkembang dewasa ini, banyak guru teraniaya. Mereka diperlakukan sewenang-wenang oleh beberapa bupati/walikota dengan memindah, dan memutasi jauh dari sistem kepegawaian dan akademik. Berkenaan dengan Kepala sekolah, pengawas dan peniliki sekolah juga perlu mendapat perhatian. Sekarang rekrutmen mereka banyak tidak merit sistem. Ada juga pengawas sekolah yang dipensiun pada usia 56 tahun, padahal mereka adalah guru yang BUP-nya 60 yang mendapat tugas pengawas. Selain itu peraturan pembinaan guru yang sering tidak berbasis kondisi nyata, baik kemampuan, geografis, maupun tugas sehari-hari.
Ayah dua putra kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah tahun 1962 itu menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kementrian Agama yang telah menyatakan bahwa “di Kementrian Agama tidak ada organisasi lain, kecuali PGRI.” Demikian juga dalam beberapa kesempatan, Ketua DPR RI, H. Marzuki Alie menyatakan sebaiknya organisasi guru di Indonesia cukup satu saja.
Dalam upaya ikut serta membangun guru Indonesia yang profesional, sejahtera, terlindungi dan bermartabat untuk pendidikan bermutu, PGRI sebagai organisasi profesi guru Indonesia memastikan menjadi organisasi guru yang mampu menjadi tempat bernaung guru, dosen dan tenaga kependidikan di Indonesia dalam meningkatkan peran strategisnya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan memajukan NKRI. Untuk tidak merancukan pembinaan guru, menurut mahasiswa teladan 1984 dan dosen teladan 1996 di lingkungan IKIP PGRI Semarang, sebaiknya dilakukan akreditasi dan verifikasi tersebut organisasi guru di Indonesia. Demikian rangkuman sekapur sirih pengemban amanat Kongres PGRI XX/2008 Palembang diakhiri dengan teriakan slogan “Hidup Guru! Hidup PGRI! Solidaritas Yes!!“ yang disambut aplaus hadirin.
Merumuskan program kerja 2012
Kegiatan Konkernas ini didahului oleh sesi acara “Pengesahan Jadwal Acara dan Tata Tertib Konkernas IV” pada hari Kamis, 26 Januari 2012 yang dipimpin oleh Ketua Umum dan Sekjen PB-PGRI, H. Sulistiyo dan H. Sahiri Hermawan. Selanjutnya, esok harinya dilanjutkan sesi “Laporan PB PGRI Masa Bakti XX tentang Pelaksanaan Program Tahun 2011” dan “Pengantar Program PGRI Tahun 2012”. Kemudian disambung “Laporan Pandangan Umum Pengurus PGRI Provinsi” dan sesi “Tanggapan Pengurus Besar” atas materi tersebut.
Secara maraton peserta konferensi dibagi ke dalam komisi-komisi. Komisi A (Organisasi) yang membahas konsolidasi kepengurusan berikut hal berkaitan dengan keanggotaan. Komisi B (Program Kerja) merumuskan program kerja PGRI di tahun 2012 berkaitan isu-isu utama berkembang, seperti: meningkatkan profesionalisme guru dan memperjuangkan sistem renumerasi guru; membantu guru (honorer/GTT) memperoleh hak-haknya dengan standar gaji minimal; memperjuangkan sertifikasi/nasib bagi GTT (selama ini sertifikasi hanya untuk guru PNS/Yayasan); kerjasama dengan mitra dalam dan luar negeri; pembinaan profesi guru, dan lain-lain. Komisi C berfokus membahas keuangan dan Komisi D merumuskan pernyataan sikap PGRI atas kondisi politik nasional dan perkembangan pendidikan nasional. Adapun Komisi E (Komisi khusus, membahas Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI) dan Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) dalam memberi perlindungan bagi guru dalam menjalankan tugas profesinya.
Laporan dan Pengesahan Hasil Rapat Komisi diadakan dalam Rapat Pleno VIII. Selain Program Kerja PGRI tahun 2012 juga dihasilkan Pernyataan Resmi Konferensi Kerja Nasional IX PGRI Masa Bakti XX 2008-2013 terdiri 7 butir menyoroti politik nasional dan 11 butir pernyataan berkaitan dengan pendidikan nasional. (Lihat : Pernyataan Resmi Konkernas IV Tahun 2012 Masa Bakti XX Tahun 2008-2013)
Disela kegiatan merumuskan program kerja, peserta konferensi juga mendapatkan pengayaan wawasan berupa ceramah umum oleh Prof. Imam B. Prasojo dengan topik tentang “Memahami Jaringan Pengedar Tembakau dan Rokok: Upaya Penyelamatan Bangsa.”
Ketua Umum PGRI berkesempatan memberikan paparan mengenai persoalan bangsa, pendidikan dan pendidik serta tenaga kependidikan sebagai pembekalan untuk peserta konferensi. Mengenai organisasi profesi, peserta konferensi juga mendapatkan “sharing” dari organisasi profesi yang telah mapan, yakni Ikatan Dokter Indonesia (IDI). IDI merupakan organisasi komunitas dokter yang dikenal solid, disegani dan tidak terkotak-kotak. Materi ini dikupas secara mendalam oleh Dr. Eddi Junaidi, Spog., SH., M. Kes, sebagai Koordinator Program PB-IDI periode 2009-2012.
Di hari Sabtu (28/1), Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkoinfo), H. Tifatul Sembiring berkesempatan memberikan materi berkaitan perlunya guru melek ICT sehingga dengan sosial media itu, guru mampu mencerdaskan otak siswa dengan hati. Menkoinfo merasa bangga atas pencapaian prestasi siswa-siswi di tanah air, seperti kreativitas siswa SMK membuat mobil esemka atau pesawat terbang. Beliau mengingatkan pentingnya membangun karakter bangsa di kalangan peserta didik.
Dukungan terhadap PGRI
Acara Penutupan Konkernas diadakan di Aula Barat, Gedung Sate. Peserta konferensi pada akhirnya dapat menikmati kemegahan bangunan bersejarah (herritage) yang dibangun tanggal 27 Juli 1920. Peserta tiba pukul 17.15 WIB menggunakan bus disediakan Panitia. Sambil menunggu acara Penutupan dimulai pukul 20.00, mayoritas peserta memanfaatkan dengan berfoto bersama, di tempat-tempat eksotis dan bernilai sejarah, seperti: tugu batu, pelataran gedung, sekitar taman di areal kompleks, maupun di dalam ruang gedung yang tak kalah menariknya.
Acara Penutupan Konkernas PGRI diawali dengan jamuan makan malam bersama. Acara Penutupan sendiri dimulai pada pukul 20.00 WIB, diawali sambutan Ketua PGRI Propinsi Jawa Barat yaitu H. Edi Parmadi. Dalam sambutannya beliau menjelaskan bahwa pelaksanaan Konkernas dihadiri oleh seluruh pengurus PGRI se-Indonesia dan tiap-tiap propinsi mengirimkan perwakilannya. Jumlah keseluruhan dari peserta Konkernas IV PGRI Tahun 2012 Masa Bakti XX Periode 2008-2013 berjumlah 606 orang. Ketua PGRI Jawa Barat mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta Konkernas karena telah mengikuti konkernas ini dengan tertib dan lancar.
“Mudah-mudahan hasil dari Konkernas yang menghasilkan banyak keputusan, dapat memajukan dunia pendidikan di Indonesia,” ungkap Ketua PGRI Jawa Barat dalam menutup sambutannya diikuti ucapan : “Hidup Guru! Hidup PGRI! Solidaritas Yes!”
H. Lex Laksamana memberikan sambutan berikutnya. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat ini mengucapkan selamat datang di kantor pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat yaitu Gedung Sate serta mengucapkan termikasih kepada peserta Konkernas atas kehadirannya bersejarah ini.
“Gedung Sate didirikan pada tanggal 27 Juli 1920. Gedung ini awalnya memang dibangun sebagai pusat pemerintahan. Tujuh pemuda gugur waktu mempertahankan Gedung Sate. Untuk itu di halaman depan Gedung Sate ada batu besar dalam rangka mengenang jasa para pemuda,” ungkap Sekda. Selain itu atas nama Pemerintah Propinsi Jawa Barat mengucapkan selamat dan apresiasi kepada jajaran Pengurus Besar PGRI, Pengurus PGRI Propinsi Jawa Barat selaku panitia pelaksana serta seluruh Kabupaten/Kota khususnya atas acara telah dilaksanakan, yakni Konkernas IV PGRI tahun 2012 di Kota Bandung dengan sukses dan lancar. Dari konkernas IV PGRI ini tentunya telah dihasilkan berbagi keputusan strategis yang dapat dijadikan pintu berharga untuk melakukan evaluasi sekaligus menyusun kebijakan, program kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah pusat, pemerintah propinsi, pemerintah Kabupaten/Kota serta seluruh pemangku kepentingan terkait lainnya guna meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan serta mutu pendidikan Nasional.
Selain itu, Konkernas IV PGRI Tahun 2012 juga diharapkan terjalin komunikasi yang lebih priodik antar steakholder pendidikan sebagai perioritas utama dalam pembangunan daerah. Terutama di daerah-daerah terpencil untuk mewujudkan generasi yang unggul, produktif serta berdaya saing. Selain itu Bapak H. Laksamana mengharapkan pada seluruh peserta yang datang dari berbagai provinsi di Indomesia untuk menikmati wisata yang ada di Kota Bandung serta menikmati wisata kuliner yang terkenal di Kota Bandung.
Di akhir sambutan, H. Lex Laksamana berharap agar kedatangan para peserta Konkernas IV di Kota Bandung dijadikan pengalaman positif dan berharga serta mengucapkan JAYALAH PGRI dan MAJULAH PENDIDIKAN INDONESIA.
Ketua Umum PB PGRI, H. Sulistiyo dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada jajaran Pengurus PGRI Provinsi Jawa Barat yang telah menjadi Panitia Pelaksana, serta mengucapkan terima kasih dan penghargaannya kepada Gubernur Jawa Barat yang telah mendukung terlaksananya Konkernas IV PGRI ini. Tak lupa penghargaan diberikan kepada Ketua DPD RI, H. Irman Gusman yang berpihak pada guru.
Menurut H. Sulistiyo menjelaskan bahwa Konkernas ini telah menghasilkan sejumlah keputusan. Salah satunya adalah dua pernyataan PGRI, pertama mengenai kehidupan politik di negara Indonesia dan yang kedua, mengenai pendidikan dan tenaga kependidikan.
Beliau mengingatkan bahwa masih rendahnya pembinaan pada guru di daerah-daerah terutama di daerah terpencil. Harapannya, adanya kerjasama yang baik antara pemerintah Kabupaten/Kota dengan PGRI sesuai dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 mengenai Guru dan Dosen (UUGD) yaitu pada pasal 41 ayat 5 mengatakan bahwa: Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat memfasilitasi organisasi profesi guru dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi guru. Selain itu, banyaknya penganiayaan terhadap guru dikarenakan lemahnya perlindungan bagi guru. Padahal pada pasal 39 UUGD telah dijelaskan mengenai perlindungan bagi guru. Selain itu H. Sulistiyo, selaku ketua Umum PB-PGRI memandang agar pemerintah memberikan penghargaan pada guru non-PNS. Diungkapkannya bahwa PGRI saat ini sedang serius memperjuangkan peraturan penghasilan minimal bagi guru non-PNS. Bukti keseriusan ini, PGRI minta dukungan dari DPD RI.
“Apapun yang diperjuangkan oleh PGRI, pasti didukung!” kata Irman Gusman, Ketua DPD RI mengawali sambutannya. Menurutnya, kalau sudah bisa menyelesaikan masalah guru, berarti 60 persen sudah menyelesaikan masalah pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan merupakan tugas bersama antara PGRI dengan pemerintah. Bapak Irman Gusman mengatakan, “IPM Indonesia saat ini menurun dari peringkat 108 menurun ke-124 dari 187 negara. Mengapa negara-negara lain maju dalam IPM-nya? Karena mereka komitmen dalam dunia pendidikan”.
Beliau juga menegaskan bahwa sumber daya berbasis pengetahuan merupakan sumber kemakmuran sebuah negara. Menurutnya, ada empat pilar dalam meningkatkan sebuah negara yaitu (1) Knowledge (pengetahuan); (2) Visi; (3) Spirit; (4) Percaya diri. Keempat pilar tersebut terdapat pada dunia pendidikan. Untuk menyiasati IPM menurun, pemerintah harus memiliki “political will” untuk pendidikan dari pemerintah. Untuk itu DPD RI akan selalu mendukung aspirasi terutama untuk memajukan dunia pendidikan.
Menurutnya anggota DPD Perwakilan Sumatera Barat ini di negara demokrasi selalu ada “civil sociaty” dan PGRI merupakan bagian dari “civil sociaty”. Mudah-mudahan hasil Konkernas IV PGRI tahun 2012 dapat memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Sebelum menutup sambutan, Ketua DPD RI kelahiran Padangpanjang, 11 Februari 1962 menyatakan bahwa DPD RI akan selalu MENDUKUNG PGRI!
Sampai Jumpa di Mataram 2013
Tepat pada pukul 22.00 WIB Konkernas IV PGRI Tahun 2012 Masa Bakti XX Periode 2008-20013 di Bandung ini ditutup secara resmi oleh Ketua DPD RI H. Irman Gusman. Dengan ditutupnya Konkernas ini, maka berakhirlah seluruh rangkaian kegiatan Konkernas IV PGRI Tahun 2012 Masa Bakti XX Periode 2008-2013 dibuka sejak Kamis, 26 Januari 2012.
![]() |
| Salam perpisahan Ketua DPD RI dan Sekda, diakhir Konkernas IV/2012 seusai penutupan di aula Barat Gedung Sate Bandung (foto: azka) |
Di akhir acara, salah satu sponsor Konkernas IV, yakni perusahaan maskapai penerbangan “Sriwijaya Air” memberikan “doorprice” tiket cuma-cuma kepada 10 peserta dari 8 propinsi dan anggota Pengurus Besar. Penarikan undian dilakukan secara bergantian oleh Bapak Irman Gusman, H. Lex Laksamana, H. Sulistiyo dan H. Edi Parmadi. Sepuluh peserta beruntung terdiri perwakilan provinsi dan perwakilan PB mendapatkan keberuntungan dengan tiket terbang secara cuma-cuma bersama “Sriwijaya Air”.
Satu peserta konferensi perlahan keluar dari Aula Barat dengan diliputi perasaan gembira bercampur rasa haru. Kebersamaan yang dijalin selama 3 hari, membuat perpisahan ini tampak berat. Namun, tak mengurungkan untuk tetap berbagi selamat dan mengucapkan selamat jalan. Semoga sumbangan pemikiran, kerja keras dan pengorbanan menghasilkan keputusan terbaik yang dapat memberikan pencerahan bagi dunia pendidikan.
Sayonara Bandung, sampai Jumpa di Mataram 2013.
Hidup Guru!
Hidup PGRI!
Solidaritas …Yes!
(AZKA/Sukanda/Suara Daerah)


