Talaga Bodas 56-58

Majalah Suara Daerah PGRI Jawa Barat

Sabtu, 21 Maret 2009

HABITUASI KEGIATAN MENULIS DI SEKOLAH, Suara Daerah, PGRI Jabar No. 450, Edisi Oktober 2008



“Motivasi adalah sesuatu yang membuat Anda memulai. Kebiasaan adalah sesuatu yang membuat Anda melanjutkan,”
- Jim Ryan

Itulah kata mutiara bab pertama yang saya gunakan saat menulis buku, ”Menembus ruang dengan Menulis”. Buku itu diberi pengantar oleh Bapak H. Sahiri Hermawan, SH, MH Ketua PGRI Propinsi Jawa Barat. Kegiatan menulis apapun bentuknya bagi guru sangat bermanfaat sebagai sarana pengembangan diri.

mari memulai menulis
Bagi guru sekolah dasar, di mana dituntut hadir 6 hari di kelas, pilihan menulis mampu menembus sekat jenjang sekolah, senioritas, maupun kerumitan birokrasi. Kegiatan menulis tidak menyita kegiatan belajar-mengajar di sekolah, namun dapat dilakukan di rumah, pada saat waktu luang, tanpa meningalkan kelas, hasilnya kita mudah dikenal publik, dapat kredit poin dan adanya honorarium menulis.

Menurut H. M. Surya dalam artikel pengantar HGN/HUT PGRI ke-61 tahun 1996, Karya Tulis Guru di Media Massa (”PR”, 4 Des 2006) nilai tambah menulis bagi seorang guru, dibagi ke dalam empat aspek, yakni:
• aspek personal (pribadi), nilai tambah yang berkenaan dengan pengembangan pribadi. Dengan dimuat di media massa guru akan memperoleh umpan balik positif bagi dirinya, seperti; kepuasan, percaya diri, keterbukaan, kesiapan menerima kritik, pujian, saran, motivasi menghasilkan karya lebih baik, memperkuat diri menghadapi tantangan.
• aspek profesional, memberikan dukungan profesional guru, karena dengan menulis terjadi perluasan dan peningkatan wawasan dan keterampilan. Peningkatan wawasan akan memperkokoh kualitas profesional guru dan memberikan dorongan lebih lanjut.
• aspek sosial, terjadinya komunikasi dengan rekan sejawat, terjalinnya silaturahim dengan pembaca, berbagi ilmu pengetahuan dengan orang lain, berbagi pengalaman positif/solusi permasalahan.
• aspek material, imbalan menulis (honor), memperoleh angka kredit sebagai syarat kenaikan pangkat yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan, dan lain-lain.

Hambatan yang mendasar bagi guru untuk menulis adalah kendala-kendala pribadi guru seputar rasa malu, takut dikritik, bosan dan tidak percaya diri. Pada pengantar buku, Agar Otak tidak Beku, Ajaklah Berselancar (karya Agus Hermawan), H. Wakhudin (Redaktur Pendidikan ”PR”) memberikan judul ”Guru mengajar biasa, Guru menulis luar biasa”. Menurutnya, menulis bagi sebagian besar bangsa Indonesia masih merupakan persoalan besar. Banyak orang pintar dan kaum profesional yang ahli di bidang tertentu, akan tetapi saat diminta menulis tentang berbagai pemikirannya yang dimilikinya mereka kelabakan.

Namun jangan menyerah dulu! Satu hal yang harus dipahami, kemampuan menulis bukan lahir karena bakat, tetapi diciptakan. Menurut Bambang Trims, tidak ada orang yang dilahirkan sebagai penulis, yang benar ia tercipta sebagai penulis karena diberi peluang dan stimulus untuk belajar, berlatih dan berkembang. Karena sejatinya, tak ada manusia (penulis) yang terlatih, yang ada manusia yang suka berlatih (menulis).

Ciptakan habituasi menulis di sekolah
Modal utama untuk menjadi penulis adalah banyak membaca. Membaca apapun bentuknya, baik surat kabar, buku, maupun informasi media elektronik dan internet harus menjadi kebutuhan. Kegiatan membaca bukan saja menambah wawasan, namun lebih dari itu, secara tidak langsung kita ”berguru” pada penulis yang dianggap telah berhasil. Dengan ”berguru” kepada karya tulis mereka, dapat memperkaya dalam hal gagasan, gaya menulis, kosa kata, keunikan, maupun kepekaan kita membaca teks kehidupan sebagai sumber inspirasi untuk memulai menulis.

Sebenarnya, lingkungan sekolah sangat kondusif untuk menciptakan habituasi menulis bagi kalangan guru juga siswa. Guru dan siswa dapat sama-sama memanfaatkan media atau ruang yang bisa dijadikan sebagai sarana mengaktualisasikan diri mentransformasi gagasan ke dalam bentuk tulisan.

Beberapa sarana yang bisa dipakai untuk menyemai potensi menulis seperti: majalah dinding dan buletin sekolah, lomba menulis di sekolah, tugas-tugas di sekolah, maupun fasilitas perpustakaan dan program internet goes to school.

Keberadaan majalah dinding dan buletin sekolah sangat efektif untuk menguji ”nyali” tampil di ruang publik. Tidak perlu mahal, majalah dinding dapat dibuat sederhana, murah dan meriah berupa papan pengumuman cukup diberi kaca. Buletin sekolah cukup dibuat dalam selembar kertas HVS berwarna ukuran folio di-copy bolak-balik. Jadikanlah kedua media itu sebagai ajang untuk berlatih bagi para siswa termasuk guru untuk memberikan opini dan gagasan yang dapat dibaca seluruh warga sekolah. Biarkan imajinasi mereka mengembara, berselancar dan menjelajah sudut-sudut kehidupan untuk dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Lomba dan tugas siswa

Lomba mengarang di sekolah dapat diadakan untuk mengisi pekan-pekan menjelang liburan atau menghadapi momentum tertentu, seperti hari pendidikan nasional atau hari guru. Lomba mengarang sebaiknya mengambil tema dan jenis tulisan bergantian, menulis cerita pendek, pengalaman diri sendiri (auto biografi), puisi, naskah drama, atau tulisan populer dengan tema kehidupan sehari-hari berupa kebersihan, olahraga, taman kelas, dan bahayanya jajan sembarangan.

Begitu pun beberapa tugas berkaitan dengan kegiatan menulis, seperti: tugas membuat kliping surat kabar, tugas meresensi buku atau tugas membuat naskah pidato. Kliping surat kabar akan mendekatkan siswa dengan media cetak. Tugas ini akan jadi lebih murah dengan membuat siswa ke dalam beberapa kelompok. Satu surat kabar yang bekas sekali pun tak menjadi soal dan dapat digunakan beberapa kelompok karena topiknya berbeda. Hasil tugas ini dapat dibundel menjadi sebuah karya siswa, dan kliping bagi seorang penulis merupakan kumpulan gagasan yang bisa menjadi “teman” untuk dieksplorasi sekaligus memperkaya bentuk dan gaya tulisan kita.

Sarana di sekolah lain yang sangat mendukung kegiatan menulis adanya perpustakaan dan media internet. Perpustakaan adalah jantungnya program pendidikan (the heart of educational programme). Perpustakaan memiliki fungsi informatif, edukatif, riset dan rekreatif. Perpustakaan menyimpan banyak sumber informasi dan literatur bahan untuk menulis. Buku-buku akan memberi energi, spirit, inspirasi dan sejumlah gagasan dan pengetahuan. Begitu juga media internet cukup ampuh “menemani” seorang penulis. Adanya program internet, siswa-siswi bisa mencari bahan bacaan gratis, literatur, buku elektronik (e-book) dengan mudah. Bagi guru dan sekolah, bisa memublikasikan keberhasilan sekolah mereka dalam bidang pendidikan memanfaatkan situs atau web gratisan seperti: geocities.com atau yahoo.com.

Kegiatan menulis dapat menumbuhkan lingkaran komunitas kreatif dan positif di sekolah dengan mendorong seluruh warga sekolah aktif membaca, menelaah dan berdiskusi. Pada akhirnya, mereka memiliki wawasan luas, penalaran yang tajam, pemikiran kritis dan konstruktif, dan memberi sumbangan berharga bagi pengembangan dunia pendidikan kita.

Untuk itu, jangan tunda lagi, mari menulis!

Ajeng Kania,
Guru SDN Taruna Karya 04 Kec. Cibiru – Bandung
Penulis Buku, “Menembus Ruang dengan Menulis”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar