Talaga Bodas 56-58

Majalah Suara Daerah PGRI Jawa Barat

Senin, 24 Mei 2010

IKON “PENDIDIKAN” BAGI PROVINSI JAWA BARAT?, Suara Daerah, No. 452


OLEH : AJENG KANIA

“........Isola bumi Siliwangi, pada muru ti jauhna. Kajojo sa-Nusantara. Kader-kader keur harepan bangsa. Ti isola Mimitina”.


Itulah bait lagu ”Isola Bumi Siliwangi” akrab dinyanyikan murid-murid Sekolah Dasar. Vila Isola yang dulunya merupakan hotel tempat peristirahatan di zaman Bandung tempo doeloe. Kini gedung itu digunakan Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bernama IKIP Bandung. Memang benar, kader-kader calon guru dididik di sini. Guru-guru itu kelak menyebar ke seluruh Nusantara dan mendidik cikal bakal generasi bangsa di seluruh Indonesia. Aura ”pendidikan” pada kampus ini dan kota Bandung khususnya terasa kental dicermati dari embel-embel kata ”pendidikan” masih melekat pada kampus ini, padahal eks IKIP lainnya berubah menjadi Universitas Negeri.

Ikon “pendidikan” bagi provinsi Jawa Barat, ditunjang oleh historis, tradisi dan kondisi lingkungan amat kondusif. Jawa Barat dikenal pemasok cendekiawan se-Nusantara bahkan mancanegara. Banyak pelajar dan mahasiswa dari Sabang sampai Merauke berobsesi menuntut ilmu di bumi Parahyangan ini. Suasana sejuk, lingkungan belajar kondusif dan keramahan warganya bak semerbak bunga mengundang para pelajar studi di kota kembang ini.

pusat pendidikan
Sejak dahulu Jawa Barat dikenal sebagai basis pendidikan di Nusantara. Selain UPI, terdapat Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri tahun 1920 sebagai perguruan tinggi berbasis teknologi tertua dan berkelas dunia (peringkat ke-258 versi Times Higher Education/2007). Sementara Institut Pertanian Bogor (IPB) tercatat perguruan tinggi pertanian terbesar se-Tanah Air. Adapun Universitas Padjadjaran (Unpad) menduduki peringkat 5 nasional versi Global Asia/2008 cukup dibanggakan warga Jawa Barat. Tak ketinggalan UIN Sunan Gunung Djati (SGD) sebagai penghasil insan cendekia berbasis keagamaan (ulama). Kalau mau jujur, itu lho Universitas Indonesia (UI) (peringkat ke-250 dunia/2007) pun berada di Jawa Barat tepatnya di kota Depok.

Jawa Barat pun dipilih berbagai instansi sebagai pusat pendidikan sekolah kedinasan berskala nasional, seperti; IPDN, STKS, STIA-LAN, NHI, IKOPIN, dsb. Sementara TNI/POLRI menggunakan kota Bandung sebagai pusat penggemblengan (kawah candradimuka) anggotanya mulai Pusdikjas, Pusdikif, Pusdikav, Secapa hingga pendidikan calon jenderal setingkat Sesko, seperti: Seskoad, Sekoau, Sespimpolri atau Sesko TNI. Pusat-pusat riset teknologi seperti LIPI, BATAN, Peneropongan bintang Bosscha, Eyckman Center dan Microsoft Innovation Center di ITB. Di kota Bandung terdapat sejumlah perusahaan teknologi seperti: Omedata Semikonduktor, LEN, INTI, PT. DI, Pindad. Sementara lembaga penelitian seperti balai banyak dijumpai: Balai Keramik, Balai Selulosa, Balai Tekstil, Balai Inseminasi Buatan, Balai Penelitian Sayuran, dsb.


pentingnya membangun kualitas manusia,
Akan tetapi, ada beberapa persoalan yang mengemuka, saat penulis menghadiri acara dialog Cagub/Cawagub Jabar-Forum Rektor, dan kalangan penulis di Grha Kompas (24/3). Pada kesempatan itu, Ganjar Kurnia (Rektor Unpad) mengungkapkan keprihatinannya lamanya sekolah anak di Jawa Barat berkisar pada angka 7,8 tahun. Angka ini masih di bawah komitmen UNESCO dalam program education for all, yakni 9 tahun (sesuai Program Wajardikdas 9 tahun). Mestinya, sebagai daerah dikelilingi sejumlah lembaga pendidikan menjadi lokomotif dalam kualitas SDM-nya, dalam hal ini tingkat pendidikannya. Dengan lulusan setara kelas 7 (baca: 1 SMP), urang Sunda sulit bersaing di daerahnya sendiri. Lebih lanjut Ganjar Kurnia mencontohkan, kini cukup sulit menjumpai karyawan pabrik di seputar kawasan industri Rancaekek misalnya yang “berdialog” dengan bahasa Sunda.

Persoalan lain yang mengemuka, jumlah kaum miskin cenderung masih tinggi. Mayoritas urang Sunda tinggal di pedesaan, umumnya bermata-pencaharian petani. Meskipun masyarakatnya tampak bekerja, namun pendapatannya sangat rendah. Hidup mereka tergantung pada “kemurahan” alam dengan penghasilan subsisten. Mereka membutuhkan pemberdayaan dan peningkatan kesejehtaraan dengan memiliki nilai tambah produk pertanian mereka.

Dari dua persoalan besar di atas, pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul tak bisa ditawar-tawar lagi. Sesuai rumus kehidupan menunjukkan, seseorang ingin hidup sejahtera, maka dia harus pintar. Sementara cara satu-satunya agar seseorang pintar hanyalah pendidikan. Dengan membangun pendidikan, berarti memiliki dua keuntungan sekaligus, yakni kualitas SDM dihasilkan dan kemiskinan dientaskan.

Di era otonomi ini, pemerintah daerah memiliki otoritas menentukan mata-unggulan daerahnya. Tentunya pemilihan tema ”pendidikan” sebagai ikon suatu daerah tentu memiliki sejumlah konsekuensi yang melekat dengan ikon tsb. Beberapa terobosan di bidang pendidikan, seperti meningkatkan anggaran pendidikan, rehabilitasi infrastruktur, percepatan penuntasan wajardikdas dan meningkatkan lama anak bersekolah, meningkatkan Angka Partisipasi Kasar dan Murni (APK/APM), pemberantasan buta huruf, pemantauan bakat, dan peningkatan kualifikasi guru menjadi agenda mendesak. Pendidikan bukan milik segolongan tertentu, namun harus dinikmati seluruh lapisan masyarakat, termasuk keluarga miskin. Sehingga kelak, sebuah keluarga merasa malu bila ada anaknya tidak sekolah dan tak dijumpai anak usia sekolah keluyuran di wilayah Jawa Barat saat jam belajar sekolah.

Dengan ikon ”pendidikan”, nuansa pendidikan di Jawa Barat bakal terasa kental dibandingkan daerah lain. Fasilitas pendidikan berupa gedung-gedung sekolah yang representatif, juga ditunjang sarana pendukung, seperti: perpustakaan umum, museum, lembaga penelitian, bengkel kerja, galeri, toko buku, fasilitas internet, dsb menjadi pemandangan umum dijumpai. Nuansa intelektualitas dan akademis pun tercipta dengan semaraknya seminar, lokakarya, diskusi, lomba sains, pentas seni, pameran dan launching buku, dsb yang bisa diakses masyarakat luas. Habituasi ini menyentuh kalangan swasta berpartisipasi memberikan beasiswa, kemudahan magang (praktik kerja), sponsor kegiatan pendidikan, dan secara-timbal balik mereka memperoleh keuntungan, tersedianya tenaga berkualitas yang dihasilkan lembaga pendidikan.

Semua itu adalah tantangan yang memerlukan perubahan mind-set program pembangunan ke depan. Dengan pendidikan bermutu diperoleh manusia unggul, berdaya saing dan kompetitif, sehingga rakyat Jawa Barat siap menghadapi era persaingan global sekalipun.

Dengan keberhasilan nanti, ketika orang mengingat daerah Jawa Barat, yang terbayang dalam benaknya tentang ”pendidikan”, sama ketika orang ditanya tentang Bali identik parawisatanya dan Maluku dengan kebahariannya. Pada akhirnya, urang Sunda pun mampu menjadi ”tuan rumah” di rumahnya sendiri. Semoga!! (**)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar