Talaga Bodas 56-58

Majalah Suara Daerah PGRI Jawa Barat

Sabtu, 21 Maret 2009

MEMBANGUN KUALITAS MASYARAKAT MELALUI BUDAYA MEMBACA, Suara daerah, No. 433, Juli 2007, hal 17-18

oleh: Ajeng Kania

Visi Jawa Barat berbunyi, “Dengan iman dan takwa, Jawa Barat sebagai provinsi termaju di Indonesia dan mitra terdepan ibukota negara tahun 2010”. Salah satu misinya yaitu meningkatkan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia (SDM) Jawa Barat. Untuk merealisasikan target sesuai misi dan visi itu tentu perlunya bebenah di berbagai aspek, salah satunya pemberantasan buta huruf dan menumbuhkan tradisi membaca di kalangan masyarakat. Sebab budaya membaca masyarakat cerminan masyarakat maju, dinamis, dan terpelajar.



Di sisi lain, jumlah angka buta huruf di Jawa Barat tergolong tinggi, yaitu mencapai 1.512.899 terbagi atas 479.337 laki-laki dan 1.033.562 perempuan. (PR, 8/11). Jumlah itu tersebar di kantung-kantung wilayah pesisir pantai utara dan daerah-daerah terpencil. Sasaran penuntasan buta huruf di Jawa Barat 2006-2009, telah bergeser dari usia 10-44 tahun menjadi 15-45 tahun, dengan penekanan prioritas pada masyarakat usia belajar dan usia produktif yang berada di daerah terpencil.

Memerhatikan masih tingginya angka buta huruf ini, pemerintah provinsi menggulirkan program penuntasan buta huruf terprogram dalam rencana aksi daerah (RAD) 2006-2009 dengan menggenjot daerah-daerah kabupaten/kota untuk melakukan percepatan penuntasan buta huruf. Sehingga tekad Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan penuntasan buta huruf tahun 2009 tercapai.

Untuk mendukung usaha-usaha percepatan tersebut, materi program belajar hendaknya tidak harus bersifat formal dan menyita waktu masyarakat. Tetapi lebih diarahkan pada materi tematik bersifat lokal dan sesuai kultur daerah. Hal ini bisa dilakukan tanpa mengganggu aktivitas warga. Pelaksanaannya bisa bersamaan dengan materi ceramah di tempat-tempat ibadah, penyuluhan pertanian, dan lain-lain. Dengan tercapainya sasaran berupa tingginya angka ‘melek huruf’ di masyarakat, disertai upaya menumbuhkan minat baca masyarakat akan semakin terbuka membangun masyarakat berkualitas sesuai visi dan misi di atas.

Menumbuhkan kultur membaca,
Dengan masyarakat ‘melek huruf’ serta tumbuhnya budaya membaca, pemerintah daerah akan lebih mudah membangun segala aspek kehidupan masyarakat ketimbang dengan penduduk yang masih buta huruf. Keterampilan membaca menjadi sangat penting, karena aktivitas membaca ibarat membuka jendela kamar rumah kita, makin dibuka lebar makin terang dunia ini dan semakin penuh warna-warni. Atau melansir pepatah populer KH. Agus Salim bahwa “dunia tanpa buku ibarat malam tanpa cahaya. Semuanya menjadi serba gelap”.

Dengan membaca, masyarakat memperoleh banyak ilmu pengetahuan, wawasan, maupun berbagai informasi. Ketrampilan membaca pun memunculkan berbagai ide, gagasan, atau konsep untuk melahirkan peradaban dan kebudayaan manusia yang lebih maju. Sebut saja, tokoh-tokoh besar KH. Agus Salim, Hamka, Sutan Syahrir, meskipun tak mengenyam pendidikan formal tinggi, namun karena memiliki hobi membaca biografi dan karya-karya penulis besar sehingga memiliki pemikiran-pemikiran brilyan yang sumbangsihnya begitu besar terhadap republik ini.

Dengan ketrampilan membaca, masyarakat akan memiliki kemampuan memprediksi masa depan, yaitu masyarakat yang sanggup menyerap dan menganalisis kemudian membuat sintesis dan evaluasi tentang informasi tercetak sebelum mengambil keputusan menurut kemampuan nalar dan instuisinya (Harjasujana, 1988). Terbentuknya masyarakat literat sebagai antisipasi juga keharusan dalam menghadapi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketrampilan membaca bisa mengubah stigma dan paradigma kolot yang membelenggu kehidupan masyarakat. Pemikiran masyarakat dapat terbuka, sehingga bisa menerima inovasi, budaya dan teknologi secara selektif sekaligus mereduksi bentuk mitos, takhayul dan sikap apriori terhadap pembangunan. Di lain pihak, masyarakat bisa berpikir lebih arif dan logis. Tindakan dan perilakunya tidak lagi berlandaskan kekerasan, selalu curiga, mengandalkan otot, atau emosi semata. Masyarakat tak gampang dihasut, diadu-domba, atau dibohongi.

Bila kultur membaca sudah menjadi budaya masyarakat kita. Kita bakal menemukan orang membaca di mana-mana, tak cuma di taman bacaan, perpustakaan atau warung internet. Masyarakat tak pernah lepas dari buku, majalah atau surat kabar di pelbagai tempat, termasuk saat mengantri di bank, antre karcis, membayar listrik, dan lain-lain. Pemandangan membaca pun bisa dijumpai di ruang publik seperti : ruang tunggu stasiun kereta api, terminal bus, rumah sakit, dsb.

Sementara, siswa-siswi asyik membaca buku pelajaran tak terpengaruh ada atau tidaknya ulangan dan tugas hari itu. Sementara di taman kampus, ada kuis atau tidak, para mahasiswa tetap sibuk mengisi waktu luangnya dengan menelaah isi diktat, jurnal terbaru, atau buku teks lainnya. Dengan demikian, mereka disamping memiliki kompetensi keilmuan dari guru atau dosennya, juga memiliki cakrawala pengetahuan yang didapat dari hasil membacanya.

Bagi kalangan guru, dosen, profesional atau pejabat publik manfaat membaca sangat besar sekali. Membaca bukan sekadar menambah wawasan, namun mampu memberikan inovasi, kepekaan, solusi, maupun ketajaman berpikir untuk memecahkan berbagai permasalahan sekaligus peningkatan etos kerja di lingkungan kerja masing-masing.

Buku dan surat kabar dapat menjadi menu konsumsi masyarakat sehari-hari. Masyarakat bakal apresiatif terhadap pameran buku, peluncuran buku, penghargaan hak cipta, atau setidaknya menantikan surat kabar setiap pagi. Geliat industri perbukuan kondusif dan merangsang kalangan penulis, penerbit, dan percetakan lebih kreatif melahirkan karya-karya bermutu. Masyarakat bakal memiliki kepribadian dan pemahaman utuh, cerdas, dan berpikir logis sehingga terbentuknya tatanan masyarakat berkualitas dan maju.

Kendala di lapangan
Sayangnya, budaya membaca masih menjadi barang ‘mewah” di kalangan masyarakat. Kebiasaan masyarakat lebih suka menghabiskan waktu luangnya dengan mengobrol, ngerumpi main kartu, atau terkadang melamun. Sementara, di telinga remaja kita lebih menikmati alunan musik ketimbang menyimak informasi atau berita. Apalagi kehadiran layar kaca, membuat aktivitas masyarakat rela berjam-jam dibuat betah tepekur untuk menonton sinetron-sinetron seri membuatnya sulit untuk beranjak dari tempat duduknya.

Sementara faktor penghambat minat membaca lainnya di antaranya diakibatkan rendahnya daya beli masyarakat. Harga buku-buku teks (text-book), ensiklopedi, buku pelajaran maupun buku penunjang sekolah dirasa cukup mahal untuk dijangkau orang tua siswa. Begitu pun kebutuhan akan media surat kabar seperti koran, majalah, buletin, dsb masih berebut tempat dengan isi periuk nasi. Kondisi ini menjadi kontradiktif dengan upaya meningkatkan minat baca siswa maupun masyarakat.

Tradisi dan kecintaan terhadap buku serta sumber bacaan di masyarakat masih minim. Sebagai contoh, seorang ayah merasa bangga membelikan sepatu atau baju baru anaknya daripada membelikan buku baru. Seorang ibu rumah tangga lebih percaya diri jika di rak-raknya dipenuhi aksesori rumah tangga ketimbang koleksi buku. Sementara sahabat kita dibuat tanda tanya bila kado di hari ulang tahunnya ternyata cuma sebuah buku. Atau belum lumrah, jika si empunya rumah turut menyuguhkan buku bacaan di antara kue-kue kepada tamunya. Juga apa kita punya keberanian, bila memberi parsel lebaran kepada rekan sejawat berupa buku?

Padahal, untuk menyalurkan aktivitas membaca, sebenarnya tidaklah harus mahal. Membaca bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun. Kita bisa melakukan di taman bacaan, perpustakaan umum, atau warung internet dengan biaya cukup murah. Sumber bacaan pun bisa didapat melalui saling menukar dan meminjam buku sesama sahabat. Bahkan buku, majalah dan koran bekas pun yang dijual di emperan kaki lima cukup mudah dan murah didapat, pada hakikatnya adalah sumber bahan bacaan. Kita bisa memilih topik-topik sesuai selera kita seperti: politik, ekonomi, budaya, hiburan, karya sastra, dan lain-lain. Tinggal kemauan, spirit, dan motivasi diri sendiri.

Keterampilan membaca sungguh penting untuk mempelajari ilmu-ilmu selanjutnya. Begitu pentingnya keterampilan membaca, sampai-sampai Allah SWT menurunkan wahyu pertama kalinya kepada Rasulullah SAW berupa ayat dengan perintah membaca, yaitu “Iqraa! (Bacalah)!”. (**)

Ajeng Kania
Guru Kelas, SDN Taruna Karya 04
Kecamatan Cibiru, Bandung

MENJAGA KUALITAS KESEHATAN BANGSA, Suara Daerah No. 445, Edisi Mei 2008


Oleh: Ajeng Kania

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: ”Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia melalaikan atas dua nikmat tersebut yakni kesehatan dan kesempatan” (HR. Bukhari). Kesehatan terasa berharga, manakala seseorang jatuh sakit. Masalah kesehatan dialami anak usia sekolah dapat berdampak buruk pada kualitas kesehatan bangsa di masa depan.

Dewasa ini, gejala hipokinetik (kurang gerak) terjadi pada anak-anak di Indonesia. Problematika menimpa generasi muda kini, ditandai pertumbuhan cenderung melebihi angka ”ideal” (normal) ditinjau dari indeks masa tubuh (IMT) yakni menghitung berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan kuadrat dalam meter. Batas ambang IMT orang Indonesia dinyatakan :a) kurus (di bawah angka 17); b) normal (18,5 – 25,0) dan tergolong gemuk (di atas 25,0). IMT pun dapat digunakan untuk memprediksi status gizi anak pada usia sekolah.

Obesitas (kegemukan) kini melanda pada anak-anak usia sekolah. Faktor utama dituding penyebab obesitas disebabkan oleh gaya hidup (life-style) pasif dan perilaku hidup tidak sehat termasuk pola makan buruk.. Anak-anak sekarang lebih menyukai permainan elektronik (game, PS, nitendo, mobil-remote, dsb) yang cenderung menyita banyak waktu berjam-jam dan bersifat pasif daripada permainan tradisional yang mengeksplorasi banyak gerak sesuai fitrah anak, seperti: galah, bebentengan, ucing-sumput, dan sebagainya. Sementara perilaku hidup tidak sehat pun melanda remaja dengan pergeseran pola makan, mereka mengandrungi minuman bersoda dan makanan kaya lemak tinggi bercita rasa lezat, seperti makanan fast food, ice-cream, pasta, dan lain-lain. Hal itu diperburuk oleh kebiasaan merokok sebagai ”simbol” penerimaan pergaulan di antara mereka dan tak segan mengonsumsi minuman beralkohol .

Obesitas umumnya terjadi di negara-negara yang secara ekonomi mengalami peningkatan kesejahteraan. Kenyataan itu bisa dilihat, tahun 1970-an sangat sulit menemukan tempat fitness (sarana kebugaran untuk menurunkan obesitas) di negara kita. Ketika ekonomi cenderung membaik, masyarakat dihadapkan pada masalah tersebut. Kini gejala obesitas menghantui berbagai kalangan tak pandang bulu, baik masyarakat kota atau desa, miskin atau kaya. Penyebabnya, perubahan gaya hidup di masyarakat. Kebiasaan ngemil, makan sate, gule, bakso, dan makanan fast food, tanpa diimbangi aktivitas gerak tubuh efektif menumpuk lemak di dalam tubuh. Bukan rahasia umum, kini aktivitas orang sehari-harinya tanpa melakukan gerak yang berarti. Aktivitas dari pintu rumah ke kantor difasilitasi oleh kendaraan bermotor. Eskalator (lift) juga memanjakan untuk sekadar menggerakan kakinya.

Padahal dampaknya, obesitas tidak saja memengaruhi penampilan atau fisik seseorang (ideal), namun menurut Sri Purwati (2001: 24) berpotensi memicu bahaya laten bagi kesehatan yaitu: munculnya beberapa penyakit degeneratif seperti: hipertensi, jantung koroner, kencing manis, kanker, arthritis dan gout, hiperkolesterolemia dan hipertrigliseridemia, serta batu empedu. Berbagai penyakit ini bila melanda generasi muda, tentunya ”berita buruk” yang memerlukan perhatian serius dari berbagai kalangan.

perlunya ruang publik untuk berolahraga
Tingkat kesibukan dan tekanan hidup tak bisa dipungkiri melanda masyarakat. Kondisi demikian membuat masyarakat sering melupakan olahraga untuk mengembalikan kesegaran dan menjaga kebugaran tubuhnya. Padahal olahraga dapat dilakukan di mana saja dan tidak perlu mahal. Prinsipnya, dengan olahraga akan menggerakkan otot-otot tubuh, memperlancar sistem peredaran darah, pernafasan, syaraf, eksresi, metabolisme sehingga tubuh menjadi bugar dan segar.

Menurut Kathleen L.K. dan Jonathan K dalam UZ Mikdar (2006: 71) beberapa keuntungan berolahraga adalah:
a. Membuat jantung lebih berdaya guna, otot jantung diperkuat dan jumlah darah dipompakan lebih banyak.
b. Menormalisasi tekanan darah.
c. Memperbesar kapasitas darah membawa oksigen.
d. Memperlancar aliran darah.
e. Merangsang pernafasan yang dalam dalam menyebabkan paru-paru lebih berdaya guna, sebab lebih banyak oksigen yang disalurkan ke dalam darah.
f. Menolong mengurangi kelebihan lemak dengan pembakaran kalori.
g. Menolong otak lebih jernih dalam berpikir.
h. Mengurangi ketegangan dan depresi, dan lain-lain.

Di era tahun 1980-an, dengan slogan ‘memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat’ mampu memotivasi masyarakat untuk melakukan olahraga massal dengan senam pagi, jogging dan gerak jalan. Sayangnya, begitu krisis moneter 1998 menimpa bangsa kita, masyarakat kembali “bergulat” dengan pemenuhan kebutuhan primer dan tekanan hidup membuat mereka melupakan olahraga.

Kendala lainnya yang terjadi, minimnya ruang publik sebagai sarana olahraga. Pemerintah daerah setempat sudah selayaknya memberi ruang publik memadai untuk berolahraga. Caranya bisa menyediakan lapangan terbuka atau menutup sementara jalan protokol minimal di Minggu pagi (jam 06.00-12.00) yang sekiranya tidak menganggu arus lalu-lintas. Penulis pun terinspirasi oleh warga Jakarta, di mana di Minggu pagi, masyarakat bisa menggunakan jalur cepat jalan protokol Panglima Polim-Sudirman-MH Thamrin hingga Monas untuk kegiatan olahraga warga ibukota. Apakah mungkin diterapkan dengan menutup jalan layang Pasupati dari Pasteur hingga Surapati untuk memberikan kesempatan warga kota Bandung berolahraga cukup di Minggu pagi? Jalan Supratman hingga Gedung Sate? Atau di Bandung Timur, menutup jalur cepat dari bundaran Cibiru-Kantor Bersama untuk sarana jogging dan gerak jalan? Tentu arus lalu-lintas Minggu pagi tak seramai hari kerja, bukan?

Dahulu di lapangan Gasibu, masyarakat cukup leluasa berolahraga gratis. Namun, kini lokasi tersebut penuh sesak dengan pedagang kaki lima. Bukannya bertambah segar, kepenatan yang didapat. Kepenatan itu tampak orang berdesak-desakan berbaur dengan kendaraan yang terjebak kemacetan bikin pening kepala. Gasibu bukan ajang mencari kebugaran tubuh lagi, namun memanjakan lidah dan naluri konsumtif warga.

Padahal, di hari libur tersebut, semestinya otak kita disegarkan oleh pemandangan masyarakat dengan pakaian olahraga dan melakukan aktivitas kebugaran fisik. Ada yang senam pagi, futsal, lari-lari, warming up, sit-up, push up, peregangan otot, dan sebagainya. Mereka melakukan jogging di bawah pohon kota yang rindang, seraya saling menebar senyum ketika saling berpapasan. Silaturahmi masyarakat pun terjalin melalui olahraga. Suasana demikian dapat menggambarkan kondisi masyarakat yang kondusif dan kualitas kehidupan mereka mulai stabil.

ajakan perilaku hidup sehat

Konsep kesehatan menurut WHO adalah konsep kesehatan secara paripurna meliputi urusan ”sehat” secara fisik, tetapi juga secara sosial dan spiritual. Sementara UU Kesehatan No. 23/1992 menyebutkan, kesehatan adalah kesejahteraan dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Paradigma preventif (pencegahan penyakit) dan promotif (kampanye kesehatan) harus lebih disosialisasikan daripada paradigma kuratif (pengobatan). Sebab pencegahan dan promosi (sosialisasi) jauh lebih murah ketimbang tindakan mengobati setelah jatuh sakit. Promosi kesehatan harus dilakukan secara intensif kepada masyarakat (anak-anak, remaja bahkan orang tua) melalui gerakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Mereka dikenalkan perilaku hidup sehat maupun hidup tidak sehat harus dihindari seperti kebiasaan merokok, pecandu narkoba dan alkohol, seks bebas, pola makan buruk, lingkungan jorok, dsb. Masyarakat pun menjadi cerdas memilih makanan bermutu, yakni memiliki gizi seimbang.

Ajakan ini harus terus dilakukan secara kontinyu. Sebagai gambaran, dahulu sangat sulit memaksa orang yang memiliki kendaraan untuk service ke bengkel, umumnya mereke ke bengkel manakala motor mereka mogok. Paradigma tsb kini berubah. Masyarakat akan memeriksakan kendaraan mereka secara berkala (periodik) tanpa paksaan. Hal itu berlaku bagi kesehatan manusia, bila kini orang pergi ke dokter umumnya setelah jatuh sakit. Suatu ketika, masyarakat akan memeriksakan kesehatan secara berkala menjadi kesadaran sendiri. Di samping itu, menjaga kesehatan menjadi tradisi masyarakat, yaitu berolahraga teratur, cukup istirahat, cek-up medis berkala, asupan gizi seimbang, pola hidup sehat, imunisasi, dsb.

Tindakan preventif lainnya adalah menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan sekitar. Masyarakat mencintai kebersihan, keindahan, dan ketertiban. Masyarakat pun menyadari lingkungan bersih dambaan semua. Dengan budaya bersih lingkungan, masyarakat bakal terhindar penyakit berbasis lingkungan seperti : wabah penyakit demam berdarah, malaria, disentri, flu burung, muntaber, dan sebagainya. Gerakan perilaku hidup bersih dan sehat harus tumbuh dimulai dari diri sendiri, lingkungan rumah, dan masyarakat.

Mewujudkan kualitas kesehatan bangsa dengan partisipasi mayarakat dan dukungan pemerintah merupakan sebuah keniscayaan. Elemen kesehatan masyarakat merupakan faktor penting sebagai parameter penghitungan indeks pembangunan manusia (IPM) suatu daerah yang diwakili oleh indeks kesehatan, yakni terdiri derajat kesehatan dan angka harapan hidup (life expectancy rate) di masyarakat. Kualitas kesehatan suatu bangsa merupakan modal membangun menuju bangsa makmur dan sejahtera. Ingat, di tangan rakyat sehat negara bakal kuat!

AJENG KANIA
Mantan Guru Pendidikan Jasmani,
mantan Atlet Tajimalela,
kini guru di SDN Taruna Karya 04
Kec. Cibiru Bandung

HABITUASI KEGIATAN MENULIS DI SEKOLAH, Suara Daerah, PGRI Jabar No. 450, Edisi Oktober 2008



“Motivasi adalah sesuatu yang membuat Anda memulai. Kebiasaan adalah sesuatu yang membuat Anda melanjutkan,”
- Jim Ryan

Itulah kata mutiara bab pertama yang saya gunakan saat menulis buku, ”Menembus ruang dengan Menulis”. Buku itu diberi pengantar oleh Bapak H. Sahiri Hermawan, SH, MH Ketua PGRI Propinsi Jawa Barat. Kegiatan menulis apapun bentuknya bagi guru sangat bermanfaat sebagai sarana pengembangan diri.

mari memulai menulis
Bagi guru sekolah dasar, di mana dituntut hadir 6 hari di kelas, pilihan menulis mampu menembus sekat jenjang sekolah, senioritas, maupun kerumitan birokrasi. Kegiatan menulis tidak menyita kegiatan belajar-mengajar di sekolah, namun dapat dilakukan di rumah, pada saat waktu luang, tanpa meningalkan kelas, hasilnya kita mudah dikenal publik, dapat kredit poin dan adanya honorarium menulis.

Menurut H. M. Surya dalam artikel pengantar HGN/HUT PGRI ke-61 tahun 1996, Karya Tulis Guru di Media Massa (”PR”, 4 Des 2006) nilai tambah menulis bagi seorang guru, dibagi ke dalam empat aspek, yakni:
• aspek personal (pribadi), nilai tambah yang berkenaan dengan pengembangan pribadi. Dengan dimuat di media massa guru akan memperoleh umpan balik positif bagi dirinya, seperti; kepuasan, percaya diri, keterbukaan, kesiapan menerima kritik, pujian, saran, motivasi menghasilkan karya lebih baik, memperkuat diri menghadapi tantangan.
• aspek profesional, memberikan dukungan profesional guru, karena dengan menulis terjadi perluasan dan peningkatan wawasan dan keterampilan. Peningkatan wawasan akan memperkokoh kualitas profesional guru dan memberikan dorongan lebih lanjut.
• aspek sosial, terjadinya komunikasi dengan rekan sejawat, terjalinnya silaturahim dengan pembaca, berbagi ilmu pengetahuan dengan orang lain, berbagi pengalaman positif/solusi permasalahan.
• aspek material, imbalan menulis (honor), memperoleh angka kredit sebagai syarat kenaikan pangkat yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan, dan lain-lain.

Hambatan yang mendasar bagi guru untuk menulis adalah kendala-kendala pribadi guru seputar rasa malu, takut dikritik, bosan dan tidak percaya diri. Pada pengantar buku, Agar Otak tidak Beku, Ajaklah Berselancar (karya Agus Hermawan), H. Wakhudin (Redaktur Pendidikan ”PR”) memberikan judul ”Guru mengajar biasa, Guru menulis luar biasa”. Menurutnya, menulis bagi sebagian besar bangsa Indonesia masih merupakan persoalan besar. Banyak orang pintar dan kaum profesional yang ahli di bidang tertentu, akan tetapi saat diminta menulis tentang berbagai pemikirannya yang dimilikinya mereka kelabakan.

Namun jangan menyerah dulu! Satu hal yang harus dipahami, kemampuan menulis bukan lahir karena bakat, tetapi diciptakan. Menurut Bambang Trims, tidak ada orang yang dilahirkan sebagai penulis, yang benar ia tercipta sebagai penulis karena diberi peluang dan stimulus untuk belajar, berlatih dan berkembang. Karena sejatinya, tak ada manusia (penulis) yang terlatih, yang ada manusia yang suka berlatih (menulis).

Ciptakan habituasi menulis di sekolah
Modal utama untuk menjadi penulis adalah banyak membaca. Membaca apapun bentuknya, baik surat kabar, buku, maupun informasi media elektronik dan internet harus menjadi kebutuhan. Kegiatan membaca bukan saja menambah wawasan, namun lebih dari itu, secara tidak langsung kita ”berguru” pada penulis yang dianggap telah berhasil. Dengan ”berguru” kepada karya tulis mereka, dapat memperkaya dalam hal gagasan, gaya menulis, kosa kata, keunikan, maupun kepekaan kita membaca teks kehidupan sebagai sumber inspirasi untuk memulai menulis.

Sebenarnya, lingkungan sekolah sangat kondusif untuk menciptakan habituasi menulis bagi kalangan guru juga siswa. Guru dan siswa dapat sama-sama memanfaatkan media atau ruang yang bisa dijadikan sebagai sarana mengaktualisasikan diri mentransformasi gagasan ke dalam bentuk tulisan.

Beberapa sarana yang bisa dipakai untuk menyemai potensi menulis seperti: majalah dinding dan buletin sekolah, lomba menulis di sekolah, tugas-tugas di sekolah, maupun fasilitas perpustakaan dan program internet goes to school.

Keberadaan majalah dinding dan buletin sekolah sangat efektif untuk menguji ”nyali” tampil di ruang publik. Tidak perlu mahal, majalah dinding dapat dibuat sederhana, murah dan meriah berupa papan pengumuman cukup diberi kaca. Buletin sekolah cukup dibuat dalam selembar kertas HVS berwarna ukuran folio di-copy bolak-balik. Jadikanlah kedua media itu sebagai ajang untuk berlatih bagi para siswa termasuk guru untuk memberikan opini dan gagasan yang dapat dibaca seluruh warga sekolah. Biarkan imajinasi mereka mengembara, berselancar dan menjelajah sudut-sudut kehidupan untuk dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Lomba dan tugas siswa

Lomba mengarang di sekolah dapat diadakan untuk mengisi pekan-pekan menjelang liburan atau menghadapi momentum tertentu, seperti hari pendidikan nasional atau hari guru. Lomba mengarang sebaiknya mengambil tema dan jenis tulisan bergantian, menulis cerita pendek, pengalaman diri sendiri (auto biografi), puisi, naskah drama, atau tulisan populer dengan tema kehidupan sehari-hari berupa kebersihan, olahraga, taman kelas, dan bahayanya jajan sembarangan.

Begitu pun beberapa tugas berkaitan dengan kegiatan menulis, seperti: tugas membuat kliping surat kabar, tugas meresensi buku atau tugas membuat naskah pidato. Kliping surat kabar akan mendekatkan siswa dengan media cetak. Tugas ini akan jadi lebih murah dengan membuat siswa ke dalam beberapa kelompok. Satu surat kabar yang bekas sekali pun tak menjadi soal dan dapat digunakan beberapa kelompok karena topiknya berbeda. Hasil tugas ini dapat dibundel menjadi sebuah karya siswa, dan kliping bagi seorang penulis merupakan kumpulan gagasan yang bisa menjadi “teman” untuk dieksplorasi sekaligus memperkaya bentuk dan gaya tulisan kita.

Sarana di sekolah lain yang sangat mendukung kegiatan menulis adanya perpustakaan dan media internet. Perpustakaan adalah jantungnya program pendidikan (the heart of educational programme). Perpustakaan memiliki fungsi informatif, edukatif, riset dan rekreatif. Perpustakaan menyimpan banyak sumber informasi dan literatur bahan untuk menulis. Buku-buku akan memberi energi, spirit, inspirasi dan sejumlah gagasan dan pengetahuan. Begitu juga media internet cukup ampuh “menemani” seorang penulis. Adanya program internet, siswa-siswi bisa mencari bahan bacaan gratis, literatur, buku elektronik (e-book) dengan mudah. Bagi guru dan sekolah, bisa memublikasikan keberhasilan sekolah mereka dalam bidang pendidikan memanfaatkan situs atau web gratisan seperti: geocities.com atau yahoo.com.

Kegiatan menulis dapat menumbuhkan lingkaran komunitas kreatif dan positif di sekolah dengan mendorong seluruh warga sekolah aktif membaca, menelaah dan berdiskusi. Pada akhirnya, mereka memiliki wawasan luas, penalaran yang tajam, pemikiran kritis dan konstruktif, dan memberi sumbangan berharga bagi pengembangan dunia pendidikan kita.

Untuk itu, jangan tunda lagi, mari menulis!

Ajeng Kania,
Guru SDN Taruna Karya 04 Kec. Cibiru – Bandung
Penulis Buku, “Menembus Ruang dengan Menulis”.