Talaga Bodas 56-58

Majalah Suara Daerah PGRI Jawa Barat

Sabtu, 21 Maret 2009

MENJAGA KUALITAS KESEHATAN BANGSA, Suara Daerah No. 445, Edisi Mei 2008


Oleh: Ajeng Kania

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: ”Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia melalaikan atas dua nikmat tersebut yakni kesehatan dan kesempatan” (HR. Bukhari). Kesehatan terasa berharga, manakala seseorang jatuh sakit. Masalah kesehatan dialami anak usia sekolah dapat berdampak buruk pada kualitas kesehatan bangsa di masa depan.

Dewasa ini, gejala hipokinetik (kurang gerak) terjadi pada anak-anak di Indonesia. Problematika menimpa generasi muda kini, ditandai pertumbuhan cenderung melebihi angka ”ideal” (normal) ditinjau dari indeks masa tubuh (IMT) yakni menghitung berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan kuadrat dalam meter. Batas ambang IMT orang Indonesia dinyatakan :a) kurus (di bawah angka 17); b) normal (18,5 – 25,0) dan tergolong gemuk (di atas 25,0). IMT pun dapat digunakan untuk memprediksi status gizi anak pada usia sekolah.

Obesitas (kegemukan) kini melanda pada anak-anak usia sekolah. Faktor utama dituding penyebab obesitas disebabkan oleh gaya hidup (life-style) pasif dan perilaku hidup tidak sehat termasuk pola makan buruk.. Anak-anak sekarang lebih menyukai permainan elektronik (game, PS, nitendo, mobil-remote, dsb) yang cenderung menyita banyak waktu berjam-jam dan bersifat pasif daripada permainan tradisional yang mengeksplorasi banyak gerak sesuai fitrah anak, seperti: galah, bebentengan, ucing-sumput, dan sebagainya. Sementara perilaku hidup tidak sehat pun melanda remaja dengan pergeseran pola makan, mereka mengandrungi minuman bersoda dan makanan kaya lemak tinggi bercita rasa lezat, seperti makanan fast food, ice-cream, pasta, dan lain-lain. Hal itu diperburuk oleh kebiasaan merokok sebagai ”simbol” penerimaan pergaulan di antara mereka dan tak segan mengonsumsi minuman beralkohol .

Obesitas umumnya terjadi di negara-negara yang secara ekonomi mengalami peningkatan kesejahteraan. Kenyataan itu bisa dilihat, tahun 1970-an sangat sulit menemukan tempat fitness (sarana kebugaran untuk menurunkan obesitas) di negara kita. Ketika ekonomi cenderung membaik, masyarakat dihadapkan pada masalah tersebut. Kini gejala obesitas menghantui berbagai kalangan tak pandang bulu, baik masyarakat kota atau desa, miskin atau kaya. Penyebabnya, perubahan gaya hidup di masyarakat. Kebiasaan ngemil, makan sate, gule, bakso, dan makanan fast food, tanpa diimbangi aktivitas gerak tubuh efektif menumpuk lemak di dalam tubuh. Bukan rahasia umum, kini aktivitas orang sehari-harinya tanpa melakukan gerak yang berarti. Aktivitas dari pintu rumah ke kantor difasilitasi oleh kendaraan bermotor. Eskalator (lift) juga memanjakan untuk sekadar menggerakan kakinya.

Padahal dampaknya, obesitas tidak saja memengaruhi penampilan atau fisik seseorang (ideal), namun menurut Sri Purwati (2001: 24) berpotensi memicu bahaya laten bagi kesehatan yaitu: munculnya beberapa penyakit degeneratif seperti: hipertensi, jantung koroner, kencing manis, kanker, arthritis dan gout, hiperkolesterolemia dan hipertrigliseridemia, serta batu empedu. Berbagai penyakit ini bila melanda generasi muda, tentunya ”berita buruk” yang memerlukan perhatian serius dari berbagai kalangan.

perlunya ruang publik untuk berolahraga
Tingkat kesibukan dan tekanan hidup tak bisa dipungkiri melanda masyarakat. Kondisi demikian membuat masyarakat sering melupakan olahraga untuk mengembalikan kesegaran dan menjaga kebugaran tubuhnya. Padahal olahraga dapat dilakukan di mana saja dan tidak perlu mahal. Prinsipnya, dengan olahraga akan menggerakkan otot-otot tubuh, memperlancar sistem peredaran darah, pernafasan, syaraf, eksresi, metabolisme sehingga tubuh menjadi bugar dan segar.

Menurut Kathleen L.K. dan Jonathan K dalam UZ Mikdar (2006: 71) beberapa keuntungan berolahraga adalah:
a. Membuat jantung lebih berdaya guna, otot jantung diperkuat dan jumlah darah dipompakan lebih banyak.
b. Menormalisasi tekanan darah.
c. Memperbesar kapasitas darah membawa oksigen.
d. Memperlancar aliran darah.
e. Merangsang pernafasan yang dalam dalam menyebabkan paru-paru lebih berdaya guna, sebab lebih banyak oksigen yang disalurkan ke dalam darah.
f. Menolong mengurangi kelebihan lemak dengan pembakaran kalori.
g. Menolong otak lebih jernih dalam berpikir.
h. Mengurangi ketegangan dan depresi, dan lain-lain.

Di era tahun 1980-an, dengan slogan ‘memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat’ mampu memotivasi masyarakat untuk melakukan olahraga massal dengan senam pagi, jogging dan gerak jalan. Sayangnya, begitu krisis moneter 1998 menimpa bangsa kita, masyarakat kembali “bergulat” dengan pemenuhan kebutuhan primer dan tekanan hidup membuat mereka melupakan olahraga.

Kendala lainnya yang terjadi, minimnya ruang publik sebagai sarana olahraga. Pemerintah daerah setempat sudah selayaknya memberi ruang publik memadai untuk berolahraga. Caranya bisa menyediakan lapangan terbuka atau menutup sementara jalan protokol minimal di Minggu pagi (jam 06.00-12.00) yang sekiranya tidak menganggu arus lalu-lintas. Penulis pun terinspirasi oleh warga Jakarta, di mana di Minggu pagi, masyarakat bisa menggunakan jalur cepat jalan protokol Panglima Polim-Sudirman-MH Thamrin hingga Monas untuk kegiatan olahraga warga ibukota. Apakah mungkin diterapkan dengan menutup jalan layang Pasupati dari Pasteur hingga Surapati untuk memberikan kesempatan warga kota Bandung berolahraga cukup di Minggu pagi? Jalan Supratman hingga Gedung Sate? Atau di Bandung Timur, menutup jalur cepat dari bundaran Cibiru-Kantor Bersama untuk sarana jogging dan gerak jalan? Tentu arus lalu-lintas Minggu pagi tak seramai hari kerja, bukan?

Dahulu di lapangan Gasibu, masyarakat cukup leluasa berolahraga gratis. Namun, kini lokasi tersebut penuh sesak dengan pedagang kaki lima. Bukannya bertambah segar, kepenatan yang didapat. Kepenatan itu tampak orang berdesak-desakan berbaur dengan kendaraan yang terjebak kemacetan bikin pening kepala. Gasibu bukan ajang mencari kebugaran tubuh lagi, namun memanjakan lidah dan naluri konsumtif warga.

Padahal, di hari libur tersebut, semestinya otak kita disegarkan oleh pemandangan masyarakat dengan pakaian olahraga dan melakukan aktivitas kebugaran fisik. Ada yang senam pagi, futsal, lari-lari, warming up, sit-up, push up, peregangan otot, dan sebagainya. Mereka melakukan jogging di bawah pohon kota yang rindang, seraya saling menebar senyum ketika saling berpapasan. Silaturahmi masyarakat pun terjalin melalui olahraga. Suasana demikian dapat menggambarkan kondisi masyarakat yang kondusif dan kualitas kehidupan mereka mulai stabil.

ajakan perilaku hidup sehat

Konsep kesehatan menurut WHO adalah konsep kesehatan secara paripurna meliputi urusan ”sehat” secara fisik, tetapi juga secara sosial dan spiritual. Sementara UU Kesehatan No. 23/1992 menyebutkan, kesehatan adalah kesejahteraan dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Paradigma preventif (pencegahan penyakit) dan promotif (kampanye kesehatan) harus lebih disosialisasikan daripada paradigma kuratif (pengobatan). Sebab pencegahan dan promosi (sosialisasi) jauh lebih murah ketimbang tindakan mengobati setelah jatuh sakit. Promosi kesehatan harus dilakukan secara intensif kepada masyarakat (anak-anak, remaja bahkan orang tua) melalui gerakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Mereka dikenalkan perilaku hidup sehat maupun hidup tidak sehat harus dihindari seperti kebiasaan merokok, pecandu narkoba dan alkohol, seks bebas, pola makan buruk, lingkungan jorok, dsb. Masyarakat pun menjadi cerdas memilih makanan bermutu, yakni memiliki gizi seimbang.

Ajakan ini harus terus dilakukan secara kontinyu. Sebagai gambaran, dahulu sangat sulit memaksa orang yang memiliki kendaraan untuk service ke bengkel, umumnya mereke ke bengkel manakala motor mereka mogok. Paradigma tsb kini berubah. Masyarakat akan memeriksakan kendaraan mereka secara berkala (periodik) tanpa paksaan. Hal itu berlaku bagi kesehatan manusia, bila kini orang pergi ke dokter umumnya setelah jatuh sakit. Suatu ketika, masyarakat akan memeriksakan kesehatan secara berkala menjadi kesadaran sendiri. Di samping itu, menjaga kesehatan menjadi tradisi masyarakat, yaitu berolahraga teratur, cukup istirahat, cek-up medis berkala, asupan gizi seimbang, pola hidup sehat, imunisasi, dsb.

Tindakan preventif lainnya adalah menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan sekitar. Masyarakat mencintai kebersihan, keindahan, dan ketertiban. Masyarakat pun menyadari lingkungan bersih dambaan semua. Dengan budaya bersih lingkungan, masyarakat bakal terhindar penyakit berbasis lingkungan seperti : wabah penyakit demam berdarah, malaria, disentri, flu burung, muntaber, dan sebagainya. Gerakan perilaku hidup bersih dan sehat harus tumbuh dimulai dari diri sendiri, lingkungan rumah, dan masyarakat.

Mewujudkan kualitas kesehatan bangsa dengan partisipasi mayarakat dan dukungan pemerintah merupakan sebuah keniscayaan. Elemen kesehatan masyarakat merupakan faktor penting sebagai parameter penghitungan indeks pembangunan manusia (IPM) suatu daerah yang diwakili oleh indeks kesehatan, yakni terdiri derajat kesehatan dan angka harapan hidup (life expectancy rate) di masyarakat. Kualitas kesehatan suatu bangsa merupakan modal membangun menuju bangsa makmur dan sejahtera. Ingat, di tangan rakyat sehat negara bakal kuat!

AJENG KANIA
Mantan Guru Pendidikan Jasmani,
mantan Atlet Tajimalela,
kini guru di SDN Taruna Karya 04
Kec. Cibiru Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar