Talaga Bodas 56-58

Majalah Suara Daerah PGRI Jawa Barat

Selasa, 14 Desember 2010

MAJALAH SD : 39 TAHUN SETIA MENYAMBANGI INSAN GURU, Majalah Suara Daerah, No. 466, Juni 2010


Majalah Pendidikan PGRI Provinsi Jawa Barat Suara Daerah, Juni 2010 genap berusia 39 tahun. Dengan tiras 1.000 eksemplar berbahan kertas stensil, edisi perdana diluncurkan. Bertepatan dengan milad ini, Ajeng Kania menurunkan tulisannya.

Waktu terus bergulir. Tak terasa usia Majalah Suara Daerah hampir menyentuh empat dasa warsa. Suatu usia yang tak muda lagi. Dari kacamata usia, Suara Daerah tidak terpaut jauh dengan media cetak ternama seperti: Kompas (1965) atau Pikiran Rakyat (1966). Sejak Juni 1971, majalah Suara Daerah mulai menyambangi insan guru di belahan pelosok Jawa Barat dan Banten saat itu.

Ditinjau dari masa kepengurusan, maka Suara Daerah telah melewati tujuh periode kepengurusan PGRI Provinsi Jawa Barat, sejak: H. Waryo Syukanda, HR Taman Sastradikarna, Prof. Dr. H. Moh. Surya, Prof. Iim Wasliman, M.Sc, Prof. Dr. H. Abin Samsudin M., MA, H. Sahiri Hermawan, SH, M.H hingga Drs. H.K. Edi Parmadi, M.M.Pd pada masa-bakti XX Tahun 2008-2013.

Referensi info pendidikan di Jabar
Majalah Suara Daerah merupakan Majalah Pendidikan Jawa Barat memiliki fungsi sebagai media informasi organisasi, wadah berbagi (sharing) bagi para guru sekaligus wahana mencurahkan ide, pengalaman, hasil penelitian, dan aspirasi di kalangan guru.

Majalah beralamat di Gedung PGRI Propinsi Jawa Barat, Jalan Talagabodas 56-58 Bandung ini telah sejak lama menjadi sahabat guru, mampu berperan dalam memperkecil kesenjangan dalam mengakses informasi. Bagi guru-guru di daerah pelosok, kehadiran Suara Daerah selama bertahun-tahun ibarat pelepas dahaga dari kehausan akan informasi. Membaca surat kabar di saat itu merupakan barang mewah bagi para guru dan Suara Daerah-lah sebagai bacaan bisa menjangkau pelosok daerah dan dinikmati guru.

Peningkatan kualifikasi guru pasca UU 14 No 2005 tentang Guru dan Dosen berimbas pada kebutuhan guru akan akses informasi semakin meningkat. Pergeseran makna pembaca surat kabar, kini bukan sekedar ’pengisi waktu luang’ tapi berubah menjadi gaya hidup dan kebutuhan. Gejala ini pula menuntut Suara Daerah bebenah dengan meningkatkan kualitas baik tampilan, substansi, percetakan, maupun SDM.

Dengan peningkatan kualitas diharapkan merangsang minat baca-tulis guru, di mana pembaca Suara Daerah tidak lagi terbatas pada guru-guru Sekolah Dasar atau sekolah bernaung di bawah Yayasan PGRI, tapi layak dikonsumsi pula oleh guru-guru di sekolah menengah baik negeri dan swasta bahkan perguruan tinggi. Suara Daerah diharapkan menjadi referensi utama bagi guru, tenaga kependidikan bahkan masyarakat umum dalam mengakses informasi berkaitan seputar dunia pendidikan di Jawa Barat.

Pasang surut
Di era reformasi, media cetak tumbuh bak cendawan di musim hujan. Hidup-mati media cetak bukan lagi ditentukan oleh campur-tangan pemerintah, tapi oleh persaingan merebut pangsa pasar, seperti: khayalak pembaca dan pemasang iklan sebagai penyangga nafas media.

Sebagai majalah internal korps, Suara Daerah mengalami pasang surut dalam kiprahnya, meskipun tidak pernah berhenti terbit. Pada masa jayanya, tiras Suara Daerah pernah mencapai 46.000 eksemplar. Tetapi perkembangan berikutnya mengalami penurunan. Berdasarkan Dokumentasi Konferensi PGRI Provinsi Jawa Barat (2008), oplah Suara Daerah pada tahun 2003-2006 bertahan pada angka 17.925 eksemplar dan 2007-2008 turun menjadi 15.500 eksemplar. Penurunan ini diakibatkan ada pemekaran propinsi dan beberapa kabupaten/kota yang berhenti berlangganan.

Pesaing lain yaitu gempuran tayangan televisi dengan ragam informasi menarik. Televisi memiliki beberapa keunggulan dalam menyajikan peristiwa dengan gambar bening dan hidup, up to date atau langsung (live) telah mengalihkan pemirsa media cetak beralih ke media audio-visual ini. Begitu pun revolusi teknologi informasi dan komunikasi ditandai kehadiran teknologi multi-media membuat orang berhadapan dengan ragam pilihan dalam mengakses informasi. Kelebihan media online yang bisa menyajikan berita secara cepat dan real-time diakses 24 jam penuh diprediksi bakal menggeser peran koran dan majalah di masa depan.

Evaluasi dan penyegaran
Agar bisa bertahan, media cetak harus dapat adaptasi secara cerdas, kreatif dan inovatif. Media cetak harus senantiasa melakukan evaluasi, penyegaran, dan akomodatif terhadap dinamika berkembang pesat.

Kekhasan dimiliki media satu dibandingkan media lain, sejatinya merupakan keunggulan suatu media untuk bertahan. Pengalaman telah membuktikan, meskipun bersaing dengan televisi, radio seolah dianggap usang, namun dengan segala kreativitasnya mampu tetap eksis dan memiliki segmen pendengar fanatis tidak tergoyahkan. Tentang media cetak, Jakob Oetama (pendiri Kompas) menjelaskan bahwa media cetak memiliki kelebihan yang tidak dipenuhi media elektronik. Kelebihan koran dan majalah adalah kemampuannya untuk memberikan informasi secara lebih jelas, logis, dan mencakup. Kelebihan lainnya mampu mengintegrasikan kehidupan dan persoalan masyarakat melalui penyajian berita dan opini sekaligus sehingga memberikan informasi dan pengetahuan tentang duduk persoalan secara lengkap.

Adapun berkaitan media online, menurut Ninok Leksono (wartawan senior Kompas) media online hanyalah sebatas "knowing" bukan "reading". Ketika ada peristiwa bom, orang bakal mencari infonya terlebih dahulu di media online. Baru pagi harinya mereka mencari info lanjut di media cetak. Kedua, habbit pembaca yang masih nyaman membaca koran, setidaknya bagi pembaca berusia di atas 35 tahun. Selain itu berdasarkan fakta di lapangan, konglomerat saat ini masih melirik iklan di media cetak, setelah TV daripada di internet.

Media cetak harus akomodatif terhadap perubahan. Belum lama ini Kompas dan Pikiran Rakyat, diikuti Tribunjabar dan terakhir di bulan Maret lalu Galamedia melakukan re-design, memperbarui dan menyegarkan tata wajah dengan format barunya. Pengaruh perubahan rupanya berlabuh pula pada penampilan Suara Daerah pada edisi 464-465.

Di Edisi terakhir, Suara Daerah lebih bersifat tematis, yakni memiliki tema tertentu pada setiap edisinya. Pemilihan tema ini menyelaraskan dengan momen sedang aktual. Dengan klaim tematis, kru Redaksi dituntut bekerja tepat waktu. Sebab kalau tidak, informasi kehilangan aktualitasnya. Redaksi harus memiliki desk opini tidak lagi pasif menanti kiriman artikel, tapi harus aktif melakukan pencarian, liputan, reportase investigasi, dan wawancara pada sejumlah pakar berkompeten, sehingga isi rubrik kredibel, tajam dan mencakup.

Selama ini pengelolaan Suara Daerah masih ditangani Pengurus PGRI Provinsi, ke depan harus secara perlahan digarap suatu badan khusus menuju media profesional. Potensi ini memungkinkan karena akses guru makin luas juga kehadiran asosiasi di lingkungan PGRI, seperti: asosiasi guru mata pelajaran (AGMP) dan asosiasi guru penulis (AGP) akan menambah content rubrik-rubrik di Suara Daerah semakin warna-warni.

Suara Daerah ke depan tidak terpaku pada satu produk konvensional saja tetapi turut membidik segmen pembaca berbasis dunia maya. Saat ini PGRI Provinsi Jawa Barat telah memiliki situs dengan alamat: www.pgrijabar.or.id. sebagai dasar mewujudkan Suara Daerah Online. Kebutuhan media online di era digital ini adalah realitas yang tak terelakan lagi. Bila tahun 1994, baru 4 surat media cetak yang membuka homepage di internet. Tahun 1995, melonjak menjadi 200 media cetak membuka online. Dan kini hampir semua media cetak membuka layanan online.

Kehadiran Suara Daerah selama ini tak lepas dari kekurangan dan kritik pembacanya. Begitu pun format baru diluncurkan pada edisi 464, masih memerlukan sejumlah pembenahan dan penyempurnaan. Kiranya usul, kritik, dan sumbang saran segenap insan pendidikan dibutuhkan dalam menempa media ini sehingga menjadi kebanggaan korps guru.

Di tengah kritikan dan tuntutan, terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan, Suara Daerah telah berhasil memasuki usia ke-39 tahun. Semoga kehadirannya terus memberi makna sebagai sumber pengetahuan yang terus mengalir, alat perjuangan organisasi disegani, sarana beraktualisasi dan aspirasi bagi guru di propinsi Jawa Barat!

Dirgahayu Suara Daerah! Selamat Ulang Tahun ke-39! (**/azka)

Catatan: Blog Arsip Suara Daerah ini dibuat penulis, untuk memperkaya dunia maya/informasi khususnya berkaitan tentang konten Majalah Suara Daerah yang awalnya sulit diakses. (Ajeng Kania)