oleh : Ajeng Kania
Ada anggapan keliru, bahwa media cetak seperti koran, majalah atau tabloid adalah garapan komunitas ekslusif para wartawan, selebihnya dosen atau budayawan. Asumsi ini membuat ibu-ibu rumah tangga, karyawan atau kalangan swasta bahkan banyak rekan guru pun belum tertarik menjadi penulis.
Anda tidak perlu khawatir, siapa pun orangnya dapat urun-rembug menjadi penulis di surat kabar. Menulis di media cetak tidak memerlukan sederet gelar akademik. Surat kabar profesional telah lama “menanggalkan” atribut gelar akademik. Hal ini bisa dilihat pula pada profil penulis buku atau susunan daftar pustaka pada suatu jurnal.
Penulis media cetak dapat memosisikan diri dengan mengambil spesialisasi seperti penulis fiksi atau non-fiksi. Amat jarang penulis yang memiliki keunggulan di dua ranah ini sekaligus. Biasanya, penulis fiksi karyanya sangat bagus, jernih dan mengalir tatkala menulis tentang cerita pendek, carpon, novel atau dongeng sebagai bidang spesialisasinya. Tetapi tidak lancar ketika menuliskan tentang tulisan ilmiah popular sarat fakta, dan sebaliknya.
Bila dirinci, bagian-bagian surat kabar terdiri informasi berita, kolom opini dan rubrik lainnya. Kolom opini terbagi 3 jenis, yakni tajuk, surat pembaca dan opini. Laporan berita dan tajuk biasa diisi oleh pengasuh surat kabar. Surat pembaca untuk menampung keluhan publik berkaitan pelayanan umum. Di kolom opini inilah penulis artikel dapat berpartisipasi mengirimkan karyanya.
Kini sejumlah media cetak telah memberi ruang khusus menulis bagi guru yakni rubrik Forum Guru (Pikiran Rakyat), Suluh (Tribunjabar), Suara Guru (Galamedia), Guru Menulis (Republika), Mimbar Atikan (Mangle), dan lain-lain. Ada juga majalah pendidikan yang bisa dikirimi artikel karya tulis guru yakni Majalah Suara Daerah PGRI Jabar, EduGlobal PGRI Jabar, Majalah Guruku, Suara Guru PB-PGRI, atau BKW Disdik Jabar.
Kejelian Membaca Visi Media
Faktor kerap diabaikan pengirim artikel di surat kabar yakni mencermati visi dan misi yang dibawa suatu media. Jakob Oetama dalam buku PERS INDONESIA: Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus (Kompas: 2001) mengibaratkan : pada pertandingan tinju Mike Tyson dan Larry Holmes (22 Januari 1988), semua media pasti melaporkan peristiwa menarik ini menjadi berita. Kejadian ini merupakan peristiwa objektif.
Sedangkan bagaimana kejadian itu dipilih atau dilaporkan menjadi suatu berita jelas merupakan suatu subyektif. Maka suatu kejadian sama, tatkala dilaporkan sebagai berita dapat berbeda-beda kelengkapan isi, susunan, semangat dan bentuknya. Perbedaan ini disebabkan juga oleh visi disebut visi pandangan media yang dijabarkan dalam kebijakan editorial yang secara sederhana dapat disebut “selera” Redaksi. Manusia dan kemanusiaan, cobaan dan permasalahannya, aspirasi dan hasratnya, keagungan dan kehinaannya, adalah faktor yang ingin ditempatkan secara sentral dalam visi Kompas sebagai nafas pemberitaannya.
Menurut Arif M. Hakim (2005), jika menulis artikel dengan topik “Pertikaian Presiden versus Parlemen” dan kita memosisikan diri kepada Presiden Gusdur (saat itu), jangan coba-coba mengirim ke HU Republika. Meskipun tulisan ini bagus, obyektif dan argumentatif, tetap tidak mungkin dimuat. Hal ini terjadi karena Republika amat rajin “menghantam” Gusdur dan relasinya. Akan lebih baik jika tulisan ini dikirim ke Surabaya Post di mana pembacanya mayoritas pendukung fanatik Gusdur. Atau harian Kompas atau Pikiran Rakyat yang mungkin bisa lebih obyektif dan berimbang dengan cara mengakomodasi kedua pihak bersebrangan.
Tulisan H. Usep Romli, HM yang dimuat di Majalah Mangle No. 2107/1-7 Maret 2007 dapat dijadikan contoh memahami “selera” media ini. H. Usep Romli mengirimkan feature perjalanannya yang menonjolkan tradisi kesundaan ke redaksi HU Pikiran Rakyat. Untuk Kompas, diutamakan yang mengandung informasi detail suatu daerah seperti daerah terpencil. Koran Berita Buana lebih menyenangi kiriman artikel berbau mistis. Dan Suara Karya lebih menitikberatkan pada informasi pembangunan yang dipentingkan.
Pendeknya, kalau mengupas tulisan yang kontra penguasa misalnya, maka jangan mengirimkan ke media yang pro penguasa, tapi kirimlah ke media yang bersikap kritis. Kecermatan membaca “selera” media ini membuka peluang semakin besar dimuat, dan meminimalisir jumlah karya yang ditolak.
Teknik mengirim
Pengiriman artikel merupakan bagian dari proses akhir kegiatan menulis. Dengan mengirimkan artikel ke media cetak, pasti ada yang ditunggu. Suasana hati bakal diliputi harap-cemas layaknya menunggu seseorang. Agar tidak menjemukan, segeralah menulis tema lain untuk dikirim ke media lain. Dengan cara ini, menunggu tidak lagi menjadi masa menjemukan. Kemungkinan dimuat pun bakal semakin terbuka, bila memiliki artikel di sejumlah media, bukan?
Mengirim tulisan ke media massa pada prinsipnya sederhana saja. Bisa diantar langsung ke kantor redaksi yang bersangkutan (di-icrig), dapat melalui jasa pos, faksimile, atau e-mail. Bagi belum mahir menggunakan internet, tidak perlu khawatir, Kantor Redaksi dengan resepsionis cukup familiar dengan kiriman naskah berupa print-out. Redaksi sekaliber Kompas atau Pikiran Rakyat tidak keberatan mengetik-ulang naskah kita. Namun kalau bisa disertai CD atau pengiriman via email lebih disukai.
Bagi mengirim artikel diantar sendiri atau melalui pos, harap diperhatikan:
• tulisan ditujukan ke alamat kantor redaksi, bukan kantor pusat, sirkulasi, tata usaha, dan iklan.
• naskah tulisan diberi identitas berupa fotokopi KTP/SIM, alamat si pengirim, dan pas foto.
• sertakan bio-data penulis, rekening Bank dan kalau ada, pengalaman menulis.
• naskah diberi tanggal dan ditandatangani
• sertakan nomor telepon/hp yang bisa dihubungi
• di sudut kiri amplop ditulis rubrik yang dituju
• untuk naskah penting, aktual dan harus segera diperiksa oleh redaksi, di luar amplop ditulis “SEGERA” atau “AKTUAL”.
Pada pengiriman naskah melalui email, pilihlah email rubrik dituju. Alamat email biasanya terdapat di daftar susunan redaksi media tersebut. File naskah tetap dalam (MS Word) dikirim dengan cara dilampirkan (di-attach). Demikian juga lampiran foto dalam ekstensi JPG. Sementara bio-data cukup ditulis di bawah naskah yang dibuat. Sebaiknya naskah via email maupun print-out diberi pengantar naskah berisi tentang sisi keunggulan naskah yang kita tulis. Ini akan merangsang Redaksi segera memeriksa naskah kita.
Hindari Plagiarisme dan Artikel Ganda
Plagiarisme yakni menjiplak karya orang lain diakui miliknya adalah hal terlarang tidak dapat ditoleransi. Begitu pun media cetak, penulis yang plagiat, maka karirnya dipastikan akan tamat. Untuk keperluan referensi, etika menulis membolehkan kutip mengkutip dengan kaidah yang benar, yakni menyebutkan sumbernya.
Satu lagi kerap dianggap kecil adalah kasus artikel ganda. Dalam pengiriman artikel, ada etika yang harus dipahami oleh penulis, yakni TIDAK mengirimkan satu artikel ke LEBIH satu media. Kedua, artikel yang dikirimkan belum di-PUBLISH media Online (blog) atau diketahui publik, sebab aspek orisinalitas bagi media cetak menjadi suatu prasyarat kelayakan dimuat.
Ketidaksabaran kadangkala menghinggapi penulis, dengan mengirim satu artikel ke beberapa media dengan spekulasi, kalau tidak dimuat di media A, bisa dimuat di media B. Celakanya, kalo dimuat dua-duanya!! Ini tentu bukan suatu prestasi baik, tapi awal bencana. Kecerobohan ini bisa jadi malapetaka mengakhiri karier si penulis, setidaknya berkarya di media tsb. Meskipun karya sendiri, tapi publik dan media cetak seringkali tidak berkenan dan komplain. Kasus ini kadang diabaikan di media internal korps atau lokal, tetapi bila terjadi di media cetak profesional, bisa menjadi petaka serius. Media Kompas tak segan mem-blacklist sang penulis berupa sanksi tidak dimuat karyanya. Begitu pun media lain, kadang ada yang selamanya, adapula dalam kurun waktu tertentu. Rugi, bukan?
Miskomunikasi antara media cetak dan penulis ini seringkali menjadi faktor pemicunya. Karena Redaksi tak kunjung mengembalikan, penulis menyangka karyanya tak dimuat dan akhirnya memutuskan mengirim ke media lain. Pada kasus ini, seringkali penulis artikel dirugikan. Dalam kasus ini, penulis harus secepatnya memberi konfirmasi disertai alasan sehingga clear.
Kasus ini penting dipahami penulis, di tahun 1976, dua artikel H. Usep Romli, HM dimuat secara bersamaan di media cetak berbeda. Meskipun judul dan fotonya sama, H. Usep Romli, HM cukup cerdik menyajikan dalam sudut pandang berbeda, sehingga isinya pun berbeda dan bukan artikel ganda. Ini diapresiasi semua kalangan, termasuk redaktur PR saat itu. Pada tulisan tentang kawung (pohon enau), di Pikiran Rakyat, H. Usep Romli, HM membahas tentang keunikan kepercayaan masyarakat dan kearifan pohon kawung banyak memiliki manfaat. Di Kompas, mengupas aspek ekologis di mana populasi pohon kawung yang terus terkikis akibat penebangan dan pemukiman. Tentu, tema dan penyajian kedua artikel ini berbeda (diterjemahkan dari Mangle No. 2107).
sikap ketika dimuat dan tidak dimuat
Ketika artikel dimuat di media cetak, kegembiraan bakal terpancar di hati sang penulis. Ucapan selamat terus mengalir dari kerabat dan rekan sejawat. SMS dan dering telepon terus berbunyi memberikan apresiasi. Meskipun diposting di web, jangan lupa membeli korannya sebagi bukti otentik.
Kebanggaan bertambah lengkap, manakala honor tulisan cair. Honor tulisan bagi siapapun termasuk pejabat yang bergelimang materi, tetap akan terasa bermakna. Penulis berdomisili di dalam kota harus mengambil sendiri honornya atau minta ditransfer. Bagi yang di luar kota biasanya diwesel atau ditransfer melalui rekening. Penulis majalah mendapat bukti terbit berupa majalah di mana karyanya dimuat.
Sebaliknya bagi yang tidak dimuat, jangan patah arang. Meskipun sudah dua atau tiga kali mengirimkan. Bukankah kata Thomas Edison, saya tidak gagal, meskipun telah melakukan 10.000 percobaan yang belum berhasil. Harap diingat, Penulis sekaliber JK Rowling atau Rosihan Anwar pernah dikembalikan karyanya. Kita harus memahami bahwa hakikat menulis adalah sebuah proses latihan dan mencoba terus-menerus. Naskah tidak dimuat, dengan menyesuaikan gaya dan “selera”, bisa dikirimkan ke media cetak lain. Apabila tidak dimuat juga, jangan patah semangat. Dokumentasikan!
Banyak toh karya fenomenal seperti buku lahir dari catatan harian atau kumpulan naskah yang lama disimpan.****
