Talaga Bodas 56-58

Majalah Suara Daerah PGRI Jawa Barat

Sabtu, 21 Maret 2009

MEMBANGUN KUALITAS MASYARAKAT MELALUI BUDAYA MEMBACA, Suara daerah, No. 433, Juli 2007, hal 17-18

oleh: Ajeng Kania

Visi Jawa Barat berbunyi, “Dengan iman dan takwa, Jawa Barat sebagai provinsi termaju di Indonesia dan mitra terdepan ibukota negara tahun 2010”. Salah satu misinya yaitu meningkatkan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia (SDM) Jawa Barat. Untuk merealisasikan target sesuai misi dan visi itu tentu perlunya bebenah di berbagai aspek, salah satunya pemberantasan buta huruf dan menumbuhkan tradisi membaca di kalangan masyarakat. Sebab budaya membaca masyarakat cerminan masyarakat maju, dinamis, dan terpelajar.



Di sisi lain, jumlah angka buta huruf di Jawa Barat tergolong tinggi, yaitu mencapai 1.512.899 terbagi atas 479.337 laki-laki dan 1.033.562 perempuan. (PR, 8/11). Jumlah itu tersebar di kantung-kantung wilayah pesisir pantai utara dan daerah-daerah terpencil. Sasaran penuntasan buta huruf di Jawa Barat 2006-2009, telah bergeser dari usia 10-44 tahun menjadi 15-45 tahun, dengan penekanan prioritas pada masyarakat usia belajar dan usia produktif yang berada di daerah terpencil.

Memerhatikan masih tingginya angka buta huruf ini, pemerintah provinsi menggulirkan program penuntasan buta huruf terprogram dalam rencana aksi daerah (RAD) 2006-2009 dengan menggenjot daerah-daerah kabupaten/kota untuk melakukan percepatan penuntasan buta huruf. Sehingga tekad Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan penuntasan buta huruf tahun 2009 tercapai.

Untuk mendukung usaha-usaha percepatan tersebut, materi program belajar hendaknya tidak harus bersifat formal dan menyita waktu masyarakat. Tetapi lebih diarahkan pada materi tematik bersifat lokal dan sesuai kultur daerah. Hal ini bisa dilakukan tanpa mengganggu aktivitas warga. Pelaksanaannya bisa bersamaan dengan materi ceramah di tempat-tempat ibadah, penyuluhan pertanian, dan lain-lain. Dengan tercapainya sasaran berupa tingginya angka ‘melek huruf’ di masyarakat, disertai upaya menumbuhkan minat baca masyarakat akan semakin terbuka membangun masyarakat berkualitas sesuai visi dan misi di atas.

Menumbuhkan kultur membaca,
Dengan masyarakat ‘melek huruf’ serta tumbuhnya budaya membaca, pemerintah daerah akan lebih mudah membangun segala aspek kehidupan masyarakat ketimbang dengan penduduk yang masih buta huruf. Keterampilan membaca menjadi sangat penting, karena aktivitas membaca ibarat membuka jendela kamar rumah kita, makin dibuka lebar makin terang dunia ini dan semakin penuh warna-warni. Atau melansir pepatah populer KH. Agus Salim bahwa “dunia tanpa buku ibarat malam tanpa cahaya. Semuanya menjadi serba gelap”.

Dengan membaca, masyarakat memperoleh banyak ilmu pengetahuan, wawasan, maupun berbagai informasi. Ketrampilan membaca pun memunculkan berbagai ide, gagasan, atau konsep untuk melahirkan peradaban dan kebudayaan manusia yang lebih maju. Sebut saja, tokoh-tokoh besar KH. Agus Salim, Hamka, Sutan Syahrir, meskipun tak mengenyam pendidikan formal tinggi, namun karena memiliki hobi membaca biografi dan karya-karya penulis besar sehingga memiliki pemikiran-pemikiran brilyan yang sumbangsihnya begitu besar terhadap republik ini.

Dengan ketrampilan membaca, masyarakat akan memiliki kemampuan memprediksi masa depan, yaitu masyarakat yang sanggup menyerap dan menganalisis kemudian membuat sintesis dan evaluasi tentang informasi tercetak sebelum mengambil keputusan menurut kemampuan nalar dan instuisinya (Harjasujana, 1988). Terbentuknya masyarakat literat sebagai antisipasi juga keharusan dalam menghadapi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketrampilan membaca bisa mengubah stigma dan paradigma kolot yang membelenggu kehidupan masyarakat. Pemikiran masyarakat dapat terbuka, sehingga bisa menerima inovasi, budaya dan teknologi secara selektif sekaligus mereduksi bentuk mitos, takhayul dan sikap apriori terhadap pembangunan. Di lain pihak, masyarakat bisa berpikir lebih arif dan logis. Tindakan dan perilakunya tidak lagi berlandaskan kekerasan, selalu curiga, mengandalkan otot, atau emosi semata. Masyarakat tak gampang dihasut, diadu-domba, atau dibohongi.

Bila kultur membaca sudah menjadi budaya masyarakat kita. Kita bakal menemukan orang membaca di mana-mana, tak cuma di taman bacaan, perpustakaan atau warung internet. Masyarakat tak pernah lepas dari buku, majalah atau surat kabar di pelbagai tempat, termasuk saat mengantri di bank, antre karcis, membayar listrik, dan lain-lain. Pemandangan membaca pun bisa dijumpai di ruang publik seperti : ruang tunggu stasiun kereta api, terminal bus, rumah sakit, dsb.

Sementara, siswa-siswi asyik membaca buku pelajaran tak terpengaruh ada atau tidaknya ulangan dan tugas hari itu. Sementara di taman kampus, ada kuis atau tidak, para mahasiswa tetap sibuk mengisi waktu luangnya dengan menelaah isi diktat, jurnal terbaru, atau buku teks lainnya. Dengan demikian, mereka disamping memiliki kompetensi keilmuan dari guru atau dosennya, juga memiliki cakrawala pengetahuan yang didapat dari hasil membacanya.

Bagi kalangan guru, dosen, profesional atau pejabat publik manfaat membaca sangat besar sekali. Membaca bukan sekadar menambah wawasan, namun mampu memberikan inovasi, kepekaan, solusi, maupun ketajaman berpikir untuk memecahkan berbagai permasalahan sekaligus peningkatan etos kerja di lingkungan kerja masing-masing.

Buku dan surat kabar dapat menjadi menu konsumsi masyarakat sehari-hari. Masyarakat bakal apresiatif terhadap pameran buku, peluncuran buku, penghargaan hak cipta, atau setidaknya menantikan surat kabar setiap pagi. Geliat industri perbukuan kondusif dan merangsang kalangan penulis, penerbit, dan percetakan lebih kreatif melahirkan karya-karya bermutu. Masyarakat bakal memiliki kepribadian dan pemahaman utuh, cerdas, dan berpikir logis sehingga terbentuknya tatanan masyarakat berkualitas dan maju.

Kendala di lapangan
Sayangnya, budaya membaca masih menjadi barang ‘mewah” di kalangan masyarakat. Kebiasaan masyarakat lebih suka menghabiskan waktu luangnya dengan mengobrol, ngerumpi main kartu, atau terkadang melamun. Sementara, di telinga remaja kita lebih menikmati alunan musik ketimbang menyimak informasi atau berita. Apalagi kehadiran layar kaca, membuat aktivitas masyarakat rela berjam-jam dibuat betah tepekur untuk menonton sinetron-sinetron seri membuatnya sulit untuk beranjak dari tempat duduknya.

Sementara faktor penghambat minat membaca lainnya di antaranya diakibatkan rendahnya daya beli masyarakat. Harga buku-buku teks (text-book), ensiklopedi, buku pelajaran maupun buku penunjang sekolah dirasa cukup mahal untuk dijangkau orang tua siswa. Begitu pun kebutuhan akan media surat kabar seperti koran, majalah, buletin, dsb masih berebut tempat dengan isi periuk nasi. Kondisi ini menjadi kontradiktif dengan upaya meningkatkan minat baca siswa maupun masyarakat.

Tradisi dan kecintaan terhadap buku serta sumber bacaan di masyarakat masih minim. Sebagai contoh, seorang ayah merasa bangga membelikan sepatu atau baju baru anaknya daripada membelikan buku baru. Seorang ibu rumah tangga lebih percaya diri jika di rak-raknya dipenuhi aksesori rumah tangga ketimbang koleksi buku. Sementara sahabat kita dibuat tanda tanya bila kado di hari ulang tahunnya ternyata cuma sebuah buku. Atau belum lumrah, jika si empunya rumah turut menyuguhkan buku bacaan di antara kue-kue kepada tamunya. Juga apa kita punya keberanian, bila memberi parsel lebaran kepada rekan sejawat berupa buku?

Padahal, untuk menyalurkan aktivitas membaca, sebenarnya tidaklah harus mahal. Membaca bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun. Kita bisa melakukan di taman bacaan, perpustakaan umum, atau warung internet dengan biaya cukup murah. Sumber bacaan pun bisa didapat melalui saling menukar dan meminjam buku sesama sahabat. Bahkan buku, majalah dan koran bekas pun yang dijual di emperan kaki lima cukup mudah dan murah didapat, pada hakikatnya adalah sumber bahan bacaan. Kita bisa memilih topik-topik sesuai selera kita seperti: politik, ekonomi, budaya, hiburan, karya sastra, dan lain-lain. Tinggal kemauan, spirit, dan motivasi diri sendiri.

Keterampilan membaca sungguh penting untuk mempelajari ilmu-ilmu selanjutnya. Begitu pentingnya keterampilan membaca, sampai-sampai Allah SWT menurunkan wahyu pertama kalinya kepada Rasulullah SAW berupa ayat dengan perintah membaca, yaitu “Iqraa! (Bacalah)!”. (**)

Ajeng Kania
Guru Kelas, SDN Taruna Karya 04
Kecamatan Cibiru, Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar