Hari Rabu (18/8), para peraih prestasi di bidang pendidikan tingkat nasional tahun 2010 dari seluruh Indonesia meliputi guru dan siswa berprestasi tingkat nasional mulai TK serta SD, SMP, SMA/SMK, guru pendidikan luar biasa, guru daerah khusus, peraih olimpiade, hasil UN tertinggi, karya tulis ilmiah, dan kursus diundang ke Jakarta. Mereka memperoleh penghargaan dari Kemendiknas.
Penulis berfoto bersama Pak Mendiknas, Moh. Nuh
Ada sebagian anggapan bahwa kegiatan kompetisi diakhiri pemberian penghargaan hanya menciptakan manusia petarung haus kemenangan dan takut kegagalan. Sistem kompetisi pada akhirnya menghasilkan dua produk kontradiktif, yakni pemenang dan pecundang. Mereka didaulat menjadi pemenang tidak jarang merasa superior karena merasa dirinya hebat telah berhasil "mengalahkan" rekan-rekannya. Mentalitas sebagai pemenang mendorong pribadinya merasa sukses dan pintar berpotensi melahirkan perilaku egois dan kerap apriori terhadap kritik orang lain.
Sebaliknya, bagi yang “dikalahkan” merasa dirinya “losser” (pecundang) dan secara psikologis dapat meruntuhkan rasa percaya diri. Kompetisi pula dituding menciptakan sosok insan mengingkari hakikat manusia sebagai makhluk sosial (homo-socius) yang mengabaikan prinsip pembelajaran berbasis kerjasama (cooperative-learning). Di kalangan pegiat pendidikan, kompetisi dan pemberian penghargaan berpotensi menciptakan diskriminasi dan kastanisasi, sehingga menciptakan guru terkotak-kotak.
Tidak ada diskriminasi
”Tidak…. tidak ada rasa diskriminasi dan kastanisasi dalam pemberian penghargaan, malah harus dijadikan tradisi di Kemendiknas dan saya usul supaya bisa dilembagakan. Kita ingin membangun budaya apresiasi positif kepada siapa pun yang berprestasi," itulah respon tegas Mendiknas, Mohammad Nuh menanggapi pernyataan di atas. Hadirin yang awalnya dibuat terdiam ditandai ruang megah itu beku dalam keheningan, akhirnya berubah riuh gegap gempita oleh aplaus meriah hadirin. Itulah sekilas suasana acara Penghargaan Peraih Prestasi di Bidang Pendidikan Tingkat Nasional 2010 dalam Puncak Hardiknas 2010 dan Proklamasi Ke-65 Kemerdekaan Republik Indonesia di Plaza Insan Berprestasi Kemendiknas, Senayan, Jakarta (18/8). Substansi pesan dan kesan Mendiknas dalam momen istimewa itu disarikan penulis dalam tulisan ini sebagai media berbagi (share) informasi dan dapat menginspirasi pembaca, terutama rekan sejawat.
Para pegiat pendidikan harus dirangsang untuk terus berprestasi. Dengan cara ini, iklim kompetisi yang sehat bisa ditanamkan, pada akhirnya menumbuhkan budaya apresiatif positif sebagai upaya memajukan mutu pendidikan di tanah air. Budaya memberikan penghargaan selayaknya dijadikan tradisi penghormatan kepada siapapun berprestasi tanpa memandang statusnya. Penghargaan dapat memacu spirit terus berprestasi dari sisi kinerja, dedikasi maupun kemuliaan pribadi. Keberadaan guru dan siswa berprestasi dapat menjadi sumber inspirasi pasif kepada bagi rekan lain. Selain itu, sumber inspirasi aktif dengan menyebarkan potensi positif ke banyak orang.
Andai saja pemberian tradisi penghargaan dihilangkan, diprediksi akan berpotensi membuat dunia pendidikan terpuruk karena habituasi guru dan siswa untuk berprestasi akan menurun akibat tidak ada pembeda antara yang berprestasi dan tidak. Menurut Pak Menteri, orang yang enggan memasuki wilayah kompetisi berarti tidak menyetujui nilai manusiawi dirinya sendiri. Bila dirunut, proses pembentukan cikal bakal manusia, di mana sel gamet jantan (spermatozoa) berjumlah milyaran sel berkompetisi sehingga terseleksi menjadi satu pemenang. Proses pembuahan (fertilisasi) ini melahirkan sosok manusia, sesungguhnya hasil sebuah kompetisi amat ketat.
Budaya apresiatif positif dapat dikembangkan oleh empat faktor, yaitu kerja keras, kompetitif, kerja sama dan sportivitas. Untuk berprestasi dibutuhkan proses dan kerja keras dalam pengabdian, berkreasi maupun menghasilkan mahakarya. Kolaborasi kerja keras dan kerjasama akan menghasilkan sinergitas luar biasa dalam memajukan dunia pendidikan. Budaya terakhir adalah sportivitas, ditandai berjiwa besar mengakui kelebihan orang lain, maka seseorang akan terpacu memperbaiki diri dan prestasinya.
Atmosfer positif
Kompetisi dan seleksi yang sehat, jujur dan adil (fair) akan memunculkan atmosfer positif di kalangan pegiat pendidikan untuk berprestasi. Tentu, penghargaan bukan sekadar imbalan materi, tapi kehormatan dan kebanggaan bagi peraihnya. Tradisi menghargai guru dalam program “Teacher of Year” dengan memberikan reward kebijakan memberi kesempatan guru promosi menduduki jabatan kepala sekolah secara langsung tanpa prosedur seleksi semestinya merupakan terobosan layak diapresiasi. Bagi guru, penghargaan yang diraih dapat digunakan sebagai kredit poin syarat kenaikan pangkat dan memberi kontribusi angka portofolio sertifikasi guru.
Budaya apresiatif positif dapat diimplementasikan mulai tingkat sekolah, di mana kepala sekolah sesuai kesepakatan diatur tata tertib dapat memberikan penghargaan kepada guru yang menunjukkan prestasi. Begitu pun di kelas, guru dapat memberikan reward atau penghargaan, berupa imbalan dan ganjaran baik baik secara verbal berupa pujian maupun dengan isyarat seperti senyuman ataupun hadiah benda-benda. Dalam memberi penghargaan di saat kenaikan kelas, sejatinya bukan hanya penghargaan bagi juara kelas semata, tetapi penghargaan dapat diberikan kepada pelajar lain di kelasnya yang memiliki peringkat terbaik di bidang lain, seperti: bidang sastra, seni atau olahraga. Penghargaan ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri juga menjadi energi menimbulkan keinginan untuk berusaha mencapai kemajuan atau prestasi-prestasi baru.
Di bidang akademik, para siswa dirangsang studi setinggi mungkin, pemerintah memberi jaminan studi hingga strata Pendidikan Doktor (S3) bagi mereka telah mengharumkan bangsa melalui Olimpiade Sains. Terdapat nama-nama Wayan Wicak (2004), Ali Sucipto Tan (2005), Muhamad F Kasim (2007) atau Adam Badra Cahaya (2008), peraih emas olimpiade sains ini tidak perlu direpotkan urusan biaya. Soalnya, pelajar berprestasi emas ini seluruh biaya ditanggung pemerintah dan dibebaskan memilih universitas terbaik dalam negeri atau luar negeri. Pada gilirannya nanti dengan bekal ilmunya dituntut kembali ke tanah air dan membangun Indonesia.
Budaya apresiatif kini tumbuh dan merambah pada sejumlah yayasan dan lembaga dikelola swasta. Contohnya “Habibie Award” mirip Hadiah Nobel, secara rutin memberikan penghargaan kepada orang Indonesia berjasa besar dalam menemukan, mengembangkan, dan menyebarluaskan berbagai kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian. Gairah berprestasi mendorong anak bangsa memberi kontribusi dan makna bagi kehidupan. Pada gilirannya mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa kembali menjadi bangsa besar disegani! (**)
Penulis, Guru SDN Cibiru 5 Kota Bandung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar